Konsulat Amerika Tolak Temui Warga Ahmadiyah

TEMPO Interaktif, Denpasar:Konsulat Australian di Bali menolak menemui warga Ahmadiyah. Enam warga Ahmadiyah yang didampingi LBH Bali dan Aliansi Kerukunan untuk Toleransi (AKUR) NTB hanya diterima petugas di pintu masuk gedung di kawasan Renon itu.

Petugas menolak menerima kedatangan mereka dengan alasan sudah diperintahkan atasan. ?Kami juga tak bisa memaksa,? kata Nengah Jimat dari LBH Bali.

Sikap itu, menurutnya, cukup mengejutkan karena tahun lalu staf konsulat bersedia menemui dan mendengarkan aspirasi mereka.

Rombongan pun bergerak ke konsulat Jerman di Sanur untuk berusaha bertemu dengan konsul Jerman. Hasilnya sama saja karena staf konsulat menolak memberi tanggapan. Alasannya, kewenangan konsulat di Bali hanya untuk masalah ekonomi dan pariwisata.

?Mereka meminta kami langsung mengadu ke kedutaan besar di Jakarta,? kata Jimat.

Warga Ahmadiyah sendiri sebenarnya bermaksud mengadukan nasib mereka yang terus mendapat tekanan dari kelompok pendukung pembubaran Ahmadiyah. ?Bukan lagi sekedar dianggap sesat dan menyesatkan tetapi darah kami malah sudah dinyatakan halal,? tegasnya Zulhain, salah-satu warga.

Selain itu bantuan pemerintah makin tersendat-sendat diberikan. ?Untuk makan, kami mesti bekerja apa saja di pasar,? kata Zulhain.

Sampai saat ini masih ada 35 KK yang terdiri dari 130 jiwa berada di asrama transito Mataram. Ada pula 15 KK dengan 57 jiwa berada di bekas RSU Praya Lombok Tengah. Mereka tak berani pulang kampung halamannya di Lombok Timur, Ketapang, Lombok Barat sejak serangan terakhir 4 Februari 2006.

Rumah maupun ladang milik mereka telah dirusak massa. Zulhain mengaku terpaksa meminta perlindungan ke konsulat asing karena aparat pemerintah Republik Indonesia sudah tidak mampu melindungi mereka.

Sejatinya, tegas dia, mereka berharap bisa pulang kampung asalkan aparat memenuhi kewajiban untuk memberikan perlindungan. Mengenai kemungkinan meminta suaka politik, Zulhain mengaku belum memikirkan. ?Itu langkah terakhir. Yang penting dunia tahu dulu apa yang terjadi,? kata dia.

Rofiqi Hasan