Konsumsi Bahan Bakar Minyak Masih Tinggi
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pasca kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi rata-rata 28,7 persen pekan lalu, konsumsi bahan bakar diperkirakan masih cukup tinggi. Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Adi Subagyo mengatakan, tingginya konsumsi bahan bakar bersubsidi karena masih tingginya harga bahan bakar nonsubsidi. "Masih ada selisih harga sekitar Rp 2.000 per liter," katanya, Minggu (25/5).
Pada 23 Mei 2008, pemerintah menaikkan harga jual Premium menjadi Rp 6.000 per liter, Solar Rp 5.500 per liter dan minyak tanah Rp 2.500 per liter. Sedangkan bahan bakar nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Plus masing-masing sekitar sebesar 9.300 dan Rp 9.400 per liter. Sedangkan Solar DEX sebesar Rp 11.100 per liter.
Menurut Adi, penjualan bahan bakar bersubsidi naik sekitar 36 persen dan nonsubsidi malah turun sekitar 30 persen sejak harga minyak mentah US$ 100 per barel. Akibatnya banyak pemilik kendaraan yang beralih ke menggunakan bahan bakar premium dan solar.
Juru bicara PT Pertamina (Persero) Wisnuntoro mengatakan, permintaan solar untuk nelayan naik sebesar 10 persen. "Ada indikasi permintaan untuk solar nelayan naik 10 persen," ujarnya kemarin. Pertamina, kata dia, akan memenuhi kebutuhan solar nelayan jika memenuhi kriteria subsidi.
Namun, Sekretaris Jenderal Pelayaran Rakyat Abdul Rasyid Gani mengatakan Pertamina membatasi solar sejak dua bulan. Kapal-kapal hanya dapat melakukan pengisian solar satu kali dalam sebulan. Sebelumnya, kapal bebas mengisi solar setiap akan beroperasi sesuai permintaan melalui koperasi. "Biasanya bisa jalan dua rit sebulan, sekarang tinggal satu rit," ujarnya.
Abdul menjelaskan, sedikitnya ada 3000 unit kapal tergabung dalam pelayaran rakyat yang beroperasi di seluruh Indonesia. Kapal-kapal rakyat selain mengangkut penumpang, juga melayani pengangkutan barang antar pulau seperti bahan pokok dan bahan bangunan.
Kepala Divisi Bahan Bakar Minyak Pertamina Djaelani Sutomo mengatakan, pihaknya tidak membatasi penjualan. "Bukan dibatasi, tapi karena mereka selama ini beli dengan jerigen," katanya.
ALI NY | NIEKE INDRIETTA | HARUN MAHBUB
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Abah Landoeng, Kakek Relawan Anti-Korupsi
- Inilah Skuad Belanda untuk Hadapi Indonesia
- Kak Seto: Darin Mumtazah Harus Diperlakukan Khusus
- Kasus Blok A, Ahok Tak Gentar Hadapi Djan Faridz
- Pembunuh Tentara Dituntut 14 Tahun 6 Bulan Penjara
- Dua Kakek Bersaing Menjadi Pendaki Everest Tertua
- Gita Wirjawan Rajin ke Daerah, Bekal Nyapres?
Berita Utama Bisnis
- DPR Minta Konstruksi Terowongan Freeport Diaudit
- Impor Mesin Domestik Sulit Ditekan
- Indonesia Butuh 2 Kawasan Industri Aviasi Terpadu
- Pemerintah Ajukan Dana BLSM Rp 11,6 Triliun
- 22 Bank Dilibatkan dalam Program Pembiayaan Rumah
- Dua Jurus Chatib Basri Meredam Inflasi
- Hari Ini, Chatib Basri Bahas APBN Perubahan 2013













