PORTUGAL
Menunggu Generasi Emas Ketiga
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Dengan Cristiano Ronaldo di lapangan dan Luiz Felipe Scolari duduk di kursi pelatih, masyarakat Portugal yakin tim mereka akan membawa pulang gelar juara Euro 2008. Bila sukses, ini menjadi gelar internasional pertama Seleccao das Quinas--julukan tim nasional Portugal.
Dari dekade ke dekade, Portugal dikenal sebagai produsen pemain hebat dan selalu menampilkan permainan indah di tingkat tim nasional. Keindahan sepak bola itu mereka peroleh dari Brasil, negara yang sempat menjadi koloni Portugal.
Sayangnya, tak satu pun gelar juara mampir ke negeri itu. Negara yang beribu kota Lisabon itu pernah memiliki Eusebio dan kawan-kawan, yang disebut-sebut sebagai generasi emas pertama. Apa yang diraih? Cuma peringkat ketiga Piala Dunia 1966.
Generasi emas kedua adalah generasi Luis Figo, Rui Costa, dan kawan-kawan, yang membawa pulang trofi Piala Dunia junior 1991, melanjutkan prestasi 1989. Saat mereka dewasa, cuma runner-up Euro 2004 dan semifinalis Piala Dunia 2006 yang diperoleh.
Masyarakat Portugal tengah menantikan munculnya generasi emas dengan prestasi emas dari tim saat ini. Itu bukan harapan yang muluk. Pasalnya, tim itu memiliki skuad yang sangat bisa diandalkan.
Lihatlah, ada Ronaldo, gelandang sayap serba bisa dari Manchester United. Sedikit di bawah level Ronaldo, terdapat Ricardo Quaresma, Nani, dan Simao yang juga merupakan para pemain sayap serba guna.
Belum lagi Deco, playmaker kelas wahid dari Barcelona. Adapun stopper Ricardo Carvalho dan kiper Ricardo cukup bisa diandalkan di barisan belakang.
Dengan materi seperti itu, Portugal layak digadang-gadang sebagai juara Grup A, di atas tuan rumah Swiss, Turki, dan Republik Cek. "Tujuan kami datang adalah untuk mencapai final, tapi jalan itu masih panjang," kata Scolari. Maklum, ketiga pesaing Portugal itu tak bisa dipandang enteng.
Pelatih asal Brasil tersebut memang tak boleh terlalu optimistis agar tak lengah. Perjalanan Portugal di babak kualifikasi tak terlalu mulus. Portugal cuma beroleh posisi kedua Grup 1 di bawah Polandia. Selain itu, pada dua uji coba terakhir, Portugal ditekuk oleh Italia dan Yunani. Itu pelajaran berharga. AFP | UEFA | ANDY M
TAKTIK
Kemewahan Sayap
Scolari mendapatkan karunia tak terhingga dengan keberadaan Cristiano Ronaldo, Simao, Ricardo Quaresma, dan Nani. Keempatnya adalah pemain sayap serba guna yang bisa dimainkan di kiri dan kanan dengan sama baiknya. Scolari tinggal memilih mau menurunkan siapa.
Dengan tambahan playmaker Deco, yang bisa bertindak sebagai second striker, Portugal tinggal membutuhkan satu pemain di depan yang bertindak sebagai penggedor. Nuno Gomez, Helder Postiga, atau Hugo Almeida bersaing untuk menjadi striker tunggal itu.
PORTUGAL
Federasi berdiri: 1914
Bergabung ke FIFA:1923
Bergabung ke UEFA: 1954
Peringkat FIFA: 9
Julukan tim: Seleccao das Quinas, Lusa
Prestasi tertinggi: peringkat ketiga Piala Dunia 1966, runner-up Euro 2004
Partisipasi: empat kali Piala Dunia (pertama 1966), empat kali Euro (pertama 1984)
Langkah ke Final:
06/9/2006 Finlandia Vs Portugal 1-1
07/10/2006 Portugal Vs Azerbaijan 3-0
11/10/2006 Polandia Vs Portugal 2-1
24/3/2007 Portugal Vs Belgia 4-0
28/3/2007 Serbia Vs Portugal 1-1
02/6/2007 Belgia Vs Portugal 1-2
22/8/2007 Armenia Vs Portugal 1-1
08/9/2007 Portugal Vs Polandia 2-2
12/9/2007 Portugal Vs Serbia 1-1
13/10/2007 Azerbaijan Vs Portugal 0-2
17/10/2007 Kazakstan Vs Portugal 1-2
17/11/2007 Portugal Vs Armenia 1-0
21/11/2007 Portugal Vs Finlandia 0-0
| SKUAD | |||
|---|---|---|---|
| Nama | Klub | Usia | Posisi |
| Ricardo | Sevilla | 32 | K |
| Quim Silva | Benfica | 32 | K |
| Rui Patrcio | Sporting | 20 | K |
| Jose Bosingwa | Chelsea | 25 | B |
| Pepe | Madrid | 25 | B |
| Miguel | Valencia | 28 | B |
| Ricardo Carvalho | Chelsea | 30 | B |
| Fernando Meira | Stuttgart | 30 | B |
| Bruno Alves | Porto | 26 | B |
| Paulo Ferreira | Chelsea | 29 | B |
| Deco | Barcelona | 30 | T |
| Joao Moutinho | Sporting | 21 | T |
| Raul Meireles | Porto | 25 | T |
| Miguel Veloso | Sporting | 22 | T |
| Jorge Ribeiro | Boavista | 26 | T |
| Cristiano Ronaldo | MU | 23 | T |
| Nani | MU | 21 | T |
| Ricardo Quaresma | Porto | 24 | T |
| Helder Postiga | Panathinaikos | 25 | D |
| Nuno Gomez | Benfica | 31 | D |
| Hugo Almeida | Bremen | 24 | D |
| Keterangan: K = kiper, B = belakang, T = tengah, D = depan | |||
PELATIH
LUZ FELIPE SCOLARI
Berangasan, tapi Sukses
Di negerinya, Brasil, Luiz Felipe Scolari mendapat julukan Felipao alias si mulut besar. Itu karena pelatih berusia 59 tahun ini gemar mengumbar kata di media massa, mengecam orang, dan tak terlalu percaya diri.
Pada kualifikasi Euro 2008, Scolari tersangkut kasus. Komisi Disiplin UEFA menyelidikinya karena dianggap memukul pemain Serbia, Ivica Dragutinovic, seusai pertandingan pada September lalu.
Sebagai nakhoda tim, mantan pelatih Gremio ini dianggap menyempal dari tradisi Brasil yang penuh keindahan. Scolari tak mengharamkan permainan keras, bahkan kasar. Tapi faktanya, di tangan Scolari Brasil sukses meraih gelar juara dunia 2002 dan Portugal menjadi runner-up Euro 2004.
BINTANG
CRISTIANO RONALDO
Sayap Hebat, Striker Oke
Pada usia 23 tahun, Cristiano Ronaldo sudah meraih banyak hal. Dua musim ini menjadi masa terbaik baginya. Bersama Manchester United, pemain kelahiran Madeira itu merengkuh gelar juara Liga Primer Inggris dua kali berturut-turut, plus juara Liga Champions tahun ini.
Secara pribadi, musim ini menjadi masa terbaik baginya. Asosiasi Wartawan Olahraga Inggris dan Asosiasi Pemain Profesional Inggris mengganjarnya dengan gelar pemain terbaik.
Salah satu puncak prestasinya adalah menorehkan 42 gol untuk MU. Sebuah pencapaian yang hebat bagi seorang pemain sayap. Bukan cuma itu, Ronaldo ternyata juga punya bakat menjadi striker.
"Dalam dua pertandingan saat bermain sebagai penyerang tengah, dia mencetak empat gol, sungguh seorang striker hebat," puji pelatihnya di MU, Alex Ferguson. "Tapi sebagian besar golnya dia cetak sebagai pemain sayap, itu fenomenal."
Seperti tak puas memuji, Ferguson mengingatkan lagi soal gol yang dicetak Ronaldo dari tendangan bebas ke gawang Portsmouth, Januari lalu. Tembakannya kencang dan bersarang tepat di pojok atas gawang.
"Sebuah tendangan luar biasa," kata Ferguson. "Tak ada seorang kiper pun di dunia yang bisa menyelamatkan gawangnya dari tendangan semacam itu. Itu tendangan bebas terbaik yang pernah saya lihat di Liga Primer."
Meski begitu, harus pula dicatat kegagalan Ronaldo melesakkan bola ke jala lawan pada dua kesempatan tendangan penalti di Liga Champions. Pertama, saat semifinal di kandang AC Milan. Kedua, pada adu penalti melawan Chelsea di final.
Menjelang Euro 2008, Ronaldo mengeluhkan satu hal. "Saya bisa menjadi bukan saya sekarang," katanya. "Saya masih harus melakukan banyak pertandingan dan saya mungkin kelelahan." AFP | ANDY M












