Opsi IPO Menguntungkan Krakatau
TEMPO Interaktif, Jakarta:Opsi privatisasi PT Krakatau Steel (Persero) melalui penawaran saham perdana di bursa (initial public offering/IPO) dinilai akan menguntungkan. Investor diproyeksikan akan menyambut baik karena baja merupakan komoditas yang semakin menarik.
Pengamat pasar modal Budi Ruseno mengatakan, alasan penolakan opsi IPO karena pasar bursa tak kondusif sebagai bentuk ketidakjelasan. Alasannya, saat ini saja beberapa perusahaan mengambil opsi menjual sahamnya melalui bursa. Dia menyebutkan PT Adaro Indonesia yang memiliki aset Rp 14,8 triliun akan melepas 35 persen sahamnya dengan target Rp 12 triliun. "Pasar pun antusias dan ini berhasil," ujarnya, Kamis (29/5).
Krakatau, kata Budi, lebih memiliki peluang besar masuk pasar bursa. "Industri baja itu sangat strategis, apalagi harga komoditas ini terus mengalami kenaikan," katanya. Dengan adanya kenaikan harga minyak mentah, harga baja canai panas (hot rolled coal) bertengger di harga US$ 1.100 per ton freight on board, padahal pada Maret harga baja jenis itu sekitar US$ 800 per ton FOB.
Jika melalukan IPO, kata dia, peluang Krakatau melakukan restrukturisasi keuangan akan semakin terbuka. "Bisa lewat cara lain, seperti penerbitan saham baru," ujarnya.
Pengamat ekonomi Iman Sugema menyatakan, privatisasi Krakataumelalui penjualan ke mitra strategis dinilai akan mengurangi kepercayaan publik terhadap pemerintah. Publik mengartikan penjualan Krakatau ke mitra strategis sebagai langkah pemerintah yang mengorbankan kepentingan nasional.
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nur Wahid mengatakan, pemerintah telah kehilangan kepercayaan masyarakat karena menaikkan harga jual bahan bakar minyak. "Apabila penjualan ke mitra strategis dilanjutkan, kepercayaan kepada pemerintah akan semakin rendah," ujaranya. Dia menyarankan, pemerintah seharusnya menyerahkan opsi privatisasi ke manajemen Krakatau.
Di tempat terpisah Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Deputi Perdana Menteri yang sekaligus merangkap Menteri luar negeri Luxembourg Jean Asselborn melakukan pembicaraan soal rencana privatisasi ArcellorMittal ke Krakatau Steel. "Ini pembicaraan perdagangan dan investasi dengan Luxemburg termasuk tentang ArcelorMittal yang kantor pusatnya di Luxemburg," kata Kalla setelah menerima Jean di Kantor Wakil Presiden, Kamis (29/5).
Namun menurut Kalla pembicaraan tersebut tidak sampai pada poin kesepakatan apakah ArcellorMittal bisa masuk ke Krakatau Steel. "Semua kami kaji usulnnya, nanti Mittal akan dibandingkan dan disandingkan dengan para pihak yang berminat seperti Tata dan Poscow dan lain-lain," ujarnya.
YULIAWATI | ANTON APRIANTO
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Inilah Skuad Belanda untuk Hadapi Indonesia
- Kak Seto: Darin Mumtazah Harus Diperlakukan Khusus
- Kasus Blok A, Ahok Tak Gentar Hadapi Djan Faridz
- Pembunuh Tentara Dituntut 14 Tahun 6 Bulan Penjara
- Dua Kakek Bersaing Menjadi Pendaki Everest Tertua
- Gita Wirjawan Rajin ke Daerah, Bekal Nyapres?
- FOTO Toyota Alphard Milik Luthfi Hasan Ishaaq
Berita Utama Bisnis
- Indonesia Butuh 2 Kawasan Industri Aviasi Terpadu
- Pemerintah Ajukan Dana BLSM Rp 11,6 Triliun
- 22 Bank Dilibatkan dalam Program Pembiayaan Rumah
- Dua Jurus Chatib Basri Meredam Inflasi
- Hari Ini, Chatib Basri Bahas APBN Perubahan 2013
- Freeport Berhenti, Negara Rugi US$ 1,82 Juta/Hari
- ESDM: Seluruh Korban Longsor Freeport Ditemukan













