Tiga Pemimpin Oposisi Malaysia Membelot
TEMPO Interaktif, Petaling Jaya: Kubu oposisi Malaysia hari ini terguncang ketika tiga pemimpin mereka membelot ke partai pemerintah, Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO).
Ketiga orang bekas anggota Partai Keadilan Rakyat (PKR), partai pimpinan tokoh oposisi Anwar Ibrahim, itu adalah Mohamad Ezam Mohd Nor, Anuar Shaari dan Khairul Anuar.
Ezam adalah bekas Ketua Angkatan Muda PKR dan sekretaris politik Anwar Ibrahim. Anuar adalah bekas sekretaris pribadi Anwar Ibrahim dan menjadi Ketua Divisi PKR Permatang Pauh. Adapun Khairul adalah bekas Ketua Angkatan Muda PKR Kedah. Anuar dan Khairul adalah juga anggota dewan Gerak, gerakan antikorupsi yang didirikan Ezam.
Dalam konferensi pers di Petaling Jaya, Malaysia, hari ini, Ezam menjelaskan bahwa kembalinya dia ke UMNO karena perkembangan politik mutakhir telah "membuka hatinya". Perkembangan itu di antaranya adalah usaha Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi untuk mereformasi kehakiman dan memerangi korupsi.
"Saya terjun ke dunia politik karena saya berambisi untuk membuat perubahan yang positif. Saya kini yakin ada lebih banyak perubahan yang akan dilakukan Perdana Menteri di masa depan," katanya.
Abdullah, yang juga Presiden UMNO, telah mengumumkan bahwa Ezam akan diterima kembali ke pangkuan UMNO tanpa syarat bila tak ada penolakan dari Majelis Tertinggi UMNO dan Pemuda UMNO.
Kepala Informasi PKR Tian Chua menyatakan penggembosan yang dilakukan para pembelot itu tak akan mempengaruhi partainya. "Keputusan Ezam hanya berdampak kecil di partai. Partai kami pernah ditinggalkan orang-orang pada masa-masa sulit, tapi kami tetap selamat," katanya.
BERNAMA | THE STAR | AFP | IWANK
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Berita Utama Dunia
- Album Pribadi Tsar Rusia Ditemukan di Museum Kecil
- Rumah Barbie di Berlin Diprotes Aktivis Feminisme
- Tersangka Bom Boston Dendam ke Amerika
- Amerika Serikat dan Turki Menekan Suriah
- Arab Saudi Resmi Larang Twitter
- Armin Wertz, Kontributor Tempo, Ditahan di Suriah
- Amerika Minta Taiwan dan Filipina Damai














