Pembangkit Baru PLN Tak Optimal
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sejumlah pembangkit baru yang dioperasikan PT PLN (Persero) mengalami kerusakan dan tidak dapat beroperasi secara optimal. Pemadaman listrik masih bakal terjadi di beberapa daerah.
Sumber Tempo di pemerintahan mengungkapkan, sejumlah pembangkit baru seperti Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU Cilacap dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Cilegon hingga kini tak mampu memenuhi pasokan listrik secara maksimal. "Yang paling parah PLTU Cilacap, sampai sekarang masih rusak dan beroperasi di bawah kapasitas faktornya," ujarnya, Selasa (2/6).
PLTU Cilacap dibangun pada 2003 dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada November 2006. Berdasarkan catatan Tempo pembangkit dengan kapasitas masing-masing 600 megawatt (MW) sebelum dan sesudah diresmikan mengalami kerusakan. PLTU Cilacap dibangun oleh perusahaan dari Cina, Chengda Engineering Corporation of China dengan biaya US$ 510 juta.
Sedangkan PLTGU Cilegon, kata sumber itu, hanya mampu beroperasi sekitar 30 persen dari kapasitas faktornya. Hingga kini pembangkit yang diresmikan penggunaannya pada 2006 tersebut belum mendapatkan pasokan gas untuk bahan bakar.
Wakil Direktur Utama PT PLN (Persero) Rudiantara mengakui, pembangkit Cilacap dan Cilegon belum optimal beroperasi. "Penyebabnya karena ada kerusakan dan perlu perbaikan," ujarnya kepada Tempo.
Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi J. Purwono mengatakan, pihaknya memastikan tidak akan ada pemadaman setelah pembangkit PLTU Paiton unit 8 beroperasi. Sebelumnya pembangkit tersebut tak beroperasi karena mengalami gangguan. "Sekarang sudah ada tambahan 300 MW," ujarnya, Senin (2/6).
Menurut Purwono, selain Paiton 8, tambahan pasokan juga datang dari PLTGU Muara Tawar dan Tambak Lorok. "Selain itu, pembangkit Cilacap juga sudah beroperasi," katanya. Namun dia, tak bisa menjamin tidak ada pemadaman listrik. "Pemadaman bisa saja terjadi karena gangguan jaringan," katanya.
Direktur Jawa-Bali PLN Murtaqi Syamsuddin meminta kalangan industri, hotel dan pusat belanja mengurangi penggunaan listrik. Menurut dia, pengurangan beban listrik tersebut bersifat nonesensial, seperti mesin pendingin ruangan.
Murtaqi mengatakan, pihaknya telah menemui sejumlah asosiasi industri, seperti Asosiasi Pengelola Pusat Belanja, Asosiasi Pertekstilan, Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia. Dia menjamin, beberapa hari ke depan tak ada lagi pemadaman.
ALI NY | FAHMI | NIEKE | AMIRULLAH
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Korban Potong 'Burung' Melas, Masa Depan Hilang
- Inilah Skuad Belanda untuk Hadapi Indonesia
- Kak Seto: Darin Mumtazah Harus Diperlakukan Khusus
- Kasus Blok A, Ahok Tak Gentar Hadapi Djan Faridz
- Pembunuh Tentara Dituntut 14 Tahun 6 Bulan Penjara
- Dua Kakek Bersaing Menjadi Pendaki Everest Tertua
- Gita Wirjawan Rajin ke Daerah, Bekal Nyapres?
Berita Utama Bisnis
- Indonesia Butuh 2 Kawasan Industri Aviasi Terpadu
- Pemerintah Ajukan Dana BLSM Rp 11,6 Triliun
- 22 Bank Dilibatkan dalam Program Pembiayaan Rumah
- Dua Jurus Chatib Basri Meredam Inflasi
- Hari Ini, Chatib Basri Bahas APBN Perubahan 2013
- Freeport Berhenti, Negara Rugi US$ 1,82 Juta/Hari
- ESDM: Seluruh Korban Longsor Freeport Ditemukan













