Malaysia Minta Dunia Kendalikan Harga Minyak
TEMPO Interaktif, Kuala Lumpur: Perdana Menteri Malaysia Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi kemarin menyerukan agar komunitas internasional mengambil langkah-langkah drastis untuk memastikan keamanan minyak dan pangan, termasuk menekan spekulasi harga minyak.
Abdullah meminta komunitas internasional meneliti kemungkinan menahan penjualan minyak mentah di pasar masa depan untuk mencegah tawar-menawar yang spekulatif.
Presiden Organisasi Nasional Melayu Bersatu (UMNO), partai berkuasa di Negeri Jiran itu, menyatakan negara-negara seperti Jepang telah memberi teladan dalam melembagakan aturan-aturan tertentu secara tegas.
"Untuk mencegah tawar-menawar yang spekulatif, Jepang menangguhkan perdagangan beras di pasar masa depan. Negeri itu juga menawarkan penjualan beras dari stoknya dengan potongan harga," kata Abdullah dalam pidato pembukaan diskusi Asia Pasifik ke-22 di Kuala Lumpur, Malaysia.
"Kita perlu menguji kemungkinan penerapan langkah-langkah semacam itu pada pasar minyak mentah, yang menjadi penyumbang penting melonjaknya harga komoditas-komoditas lain," katanya.
Aksi para spekulan disebut-sebut sebagai alasan utama di balik lonjakan harga minyak dunia, yang lebih dari dua kali lipat dalam setahun. Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) telah menegaskan bahwa dunia sudah dipasok minyak dengan baik, tapi harga minyak jadi lebih tinggi karena didorong oleh spekulasi keuangan.
Naiknya harga minyak juga mendorong melonjaknya harga pangan dunia bersama faktor-faktor lain, seperti perubahan makanan, urbanisasi, perkembangan populasi, lemahnya kebijakan perdagangan, iklim ekstrem, pertumbuhan biofuel, dan spekulasi.
Abdullah menyerukan agar anggota Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) bekerja sama dengan Cina, Jepang dan Korea Selatan untuk mengamankan pangan, khususnya dengan menciptakan "skema cadangan beras yang memiliki komitemen penuh dari semua negara yang berpartisipasi."
Skema ini, kata dia, dapat dilakukan dengan proyek-proyek semacam Cadangan Beras Darurat ASEAN. Proyek ini, yang masih dalam tahap persiapan, digunakan untuk keadaan darurat alami atau bencana alam besar.
THE STAR | BERNAMA | AFP | AP | IWANK














