Ternyata, Biasa Saja...

TEMPO Interaktif, Jakarta: Cahaya pagi baru saja tiba, tapi seorang pria berjaket kulit coklat sudah sibuk membidikkan kamera digital ke arah Jalan Petamburan III, kawasan Tanah Abang, Jakarta Pusat, gang "milik" Front Pembela Islam (FPI). Itu lo, kelompok yang ratusan laskarnya pada Ahad siang lalu menyerang dengan garang para aktivis Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) di Monas.

"Di dalam ada 50 orang kita sejak semalam. Ingatkan supaya semua berjalan sesuai skenario," kata pria itu kepada lawan bicara di ujung telepon genggamnya. Ia perwira senior Direktorat Intelijen dan Pengamanan (Intelpam) Polda Metro Jaya.

Skenario yang dimaksudnya, penangkapan para aktivis FPI yang bertindak anarkis. Kata sumber di kepolisian, "penyerbuan" melibatkan 1.000 personil gabungan intelijen, reserse, ratusan pasukan anti huru hara, Brigade Mobile, serta polisi lalu lintas. Pasukan cadangan “solo-bandung” alias standby di Markas Polda Metro Jaya.

Polisi tak mau gagal. Maklum, massa FPI hobi bertindak kasar. Semua orang tahu. Lokasi markas nyempil di Gang Paksi yang padat penduduk. Kalau polisi tak hati-hati, warga non-anggota FPI bisa kena getahnya atau malah terjadi bentrok dengan massa. Maka reserse berbaju preman mengenakan pita oranye di lengan kiri untuk membedakan dengan penduduk.

Malam sebelumnya, sekitar pukul 21.00 WIB, Kepala Polda Metro Jaya Inspektur Jenderal Adang Firman mengultimatum FPI. Polisi akan bertindak tegas kalau hingga pukul 00.00 organisasi yang dipimpin Rizieq Shihab tak menyerahkan 10 orang tersangka, termasuk Panglima Komando Laskar Pembela Islam Munarman.

Tenggat sudah lewat. Pukul 06.30 pasukan anti huru-hara merangsek ke Gang Paksi. Tak ada perlawanan. Hanya segelintir aktivis yang berjaga. Rumah-rumah di sekitar markas yang dicurigai diperiksa. Polisi melaju ke rumah Rizieq di RT 3 RW 4. Sang ketua sukarela dicokok.

"Allahu Akbar!" pekik seorang pria. Seorang reserse senior malah berkata, “Ini provokator, bawa saja dulu.” Beberapa anak buahnya tertawa melihat aksi heroik yang tak bersambut.

Ahmad Badawi mengaku bukan anggota FPI waktu ditangkap. “Masya Allah, saya tukang service di SMP An-nur,” ujarnya. “Masak mentang-mentang ada jenggot, saya ikut ditangkap.” Lantas polisi “menenteng” Risky, 16 tahun, gara-gara ditemukan sepasang cerulit di kamarnya. “Saya beli, untuk pajangan,” ucap siswa kelas I sekolah menengah atas ini. Ada juga yang buru-buru copot atribut biar lolos.

Operasi penangkapan begitu mudah. Padahal, malam sebelumnya anak-anak FPI memasang barikade kawat berduri dan bambu di depan gang. Rizieq berteriak tak akan menyerah. Tapi sebelum polisi datang, ia berkata, “Kalau ada yang disuruh ikut, ikut saja.”

Hasil tangkapan juga biasa-biasa saja. Dari 59 orang yang ditangkap, beberapa orang yang diincar tak ditemukan, termasuk Munarman. Pukul 05.00 lewat, puluhan aktivis pergi mengendarai sepeda motor. Mereka menggotong sejumlah karung, entah berisi apa.

IBNU RUSYDI | RIKA PANDA | FERY FIRMANSYAH