Kelangkaan Pupuk Akibat Penyelundupan


TEMPO Interaktif, Jakarta:Penasehat Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswaono Yudhohusodo menyatakan, kelangkaan pupuk akibat maraknya penyelundupan pupuk bersubsidi ke luar negeri. "Beberapa waktu lalu saya menemukan pupuk bersubsidi asal Indonesia di perkebunan kelapa sawit di Malaysia," ujarnya kepada Tempo, Jumat (6/6).

Dia mengatakan salah satu penyebab kelangkaan pupuk di Indonesia karena adanya disparitas harga dengan di luar negeri. Peluang itu dimanfaatkan oleh banyak pihak untuk mengambil keuntungan. Saat ini harga pupuk dunia mencapai US$ 500 per ton atau sekitar Rp 5.500 per kilogramnya. Sedangkan pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) pupuk bersubsidi sekitar Rp 1.200 per kilogram. Menurut Siswono, faktanya para petani jarang mendapatkan harga pupuk sesuai HET.

Pupuk dari Indonesia, kata dia, adalah pupuk dengan mutu terbaik dibandingkan dengan pupuk dari Malaysia dan Vietnam. "Dunia lebih memilih menggunakan pupuk dari Indonesia," katanya. Siswono menjelaskan, keuntungan pupuk bersubsidi jika dijual ke luar negeri sekitar Rp 4.400 per kilogram.

Sekretaris Jenderal HKTI Rachmat Prambudy menyatakan, kelangkaan pupuk akibat adanya penyelewengan distribusi. Selain itu pengawasan distribusi pupuk yang lemah juga menjadi penyebab hilangnya pupuk bersubsidi di pasar.

Dia mencontohkan, harga beras Jepang di luar negeri sekitar Rp 60.000 per kilogram dan tak pernah ada penyelundupan ke luar dari negara itu karena ketatnya pengawasan. "Bagi petani yang penting bukanlah besaran subsidi, tetapi ketersediaan pupuk," katanya.

Rachmat mengatakan, pemerintah hanya membuat peraturan dan konsep tapi tidak pernah terealisasi di lapangan. Selama ini, kata dia, pemerintah hanya melakukan pengawasan internal. "Pemerintah tidak akan bisa mengawasi dirinya sendiri," ujarnya.

FANNY FEBYANTI

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X