Komnas HAM Akui Ada Tekanan Terhadap Joko

TEMPO Interaktif, Jakarta:Anggota Komisi Hak Asasi Manusia Johny Simanjuntak membenarkan dirinya telah menemui Joko Suprapto, pria asal Nganjuk, Jawa Timur, yang mengklaim menemukan teknology "blue energy".

Menurut Johny, ia menemui Joko dalam beberapa kali kesempatan, yakni Sabtu dan Ahad dua pekan lalu, serta Sabtu pekan lalu.

"Dia memang dalam pengawasan Komnas HAM," kata Johny saat dihubungi, Ahad (8/6).

Menurut Johny, pertemuan itu guna memastikan ada tidaknya gangguan keamanan terhadap Joko. Sejauh ini, kata Johny, ia menemukan Joko ditekan oleh seseorang bernama Iswahyudi.

Menurut Johny, Iswahyudi adalah seorang pebisnis yang bermitra dengan Heru Lelono. Joko ditekan oleh Iswahyudi untuk meneken perjanjian, yang isinya agar penemuan Joko diserahkan kepada Iswahyudi. "Saya punya copy perjanjiannya," kata Johny.

Berdasarkan cerita Joko, kata Johny, penemuan sumber energi alternatif Blue Energy belum sempurna. Heru Lelono kemudian memberikan sejumlah dana untuk membiayai proyek itu.

Sebagai imbalannya, kata Johny, Joko diminta Heru agar menyerahkan temuannya ke Iswahyudi. "Tapi Joko menolaknya," kata Johny.

Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei lalu, Johny melanjutkan, rencananya penemuan Joko diluncurkan di Cikeas, Bogor. Untuk itu, Joko harus berangkat sejak tanggal 7 Mei untuk memasang sejumlah peralatan terlebih dahulu.

Namun, Joko tak kunjung menampakan batang hidung di Cikeas. "Dari tanggal 7 sampai 20 Mei, ia melarikan diri," kata Johny.

Alasannya, lanjut dia, bila Joko berangkat ke Cikeas, ia akan dipaksa meneken perjanjian oleh Heru Lelono.

Selama itu pula, kata Johny, Joko mengaku diteror oleh orang-orang Heru Lelono. "Dia ditakut-takuti," kata Johny. "Kalau tak datang keluarganya akan beginilah, akan begitulah."

Dalam berbagai pemberitaan, menghilangnya Joko dalam pelarian itu disebabkan karena terserang sakit jantung.

Heru Lelono sendiri selama ini mengakui sebagai komisaris utama di perusahaan yang mengembangkan temuan Joko.

Namun, soal tudingan adanya berbagai tekanan atas Joko, Heru belum bisa dimintai konfirmasinya. Saat Tempo yang menghubungi telepon selulernya, Ahad malam tadi, yang menerima adalah istrinya, Nuri. "Bapak pergi dari sore. Teleponnya ketinggalan." Anton Septian | Rudy Prasetyo