Stiker Non Ahmadiyah di Rumah Warga Sukabumi


TEMPO Interaktif, SUKABUMI:Ratusan rumah di Kampung Parakan Salak, Kecamatan Parakan Salak, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat mulai Senin malam ditempeli stiker khusus. Stiker itu berwarna putih, dengan tulisan menggunakan huruf capital warna hitam. Bunyinya, “Keluarga Besar Muslim Ahlussunah Waljamaah Non Ahmadiyah”. Khusus tulisan Non Ahmadiyah ditulis dengan tinta warna merah.

Uniknya, banyak warga tak mengetahui, siapa yang menempeli rumah mereka. Banyak dari mereka, mengetahui pagi-pagi sudah tertempel di dinding dan kaca jendela rumah mereka. “Pas bangun pagi, sudah terpasang stiker itu” kata Ela Yunirah, 38 tahun, warga di RT 02/04 Kampung Parakan Salak.

Sampai saat ini belum ada pihak yang mengaku sebagai pembuat atau pemasang stiker tersebut. Kepolisian sendiri sedang mengusut kasus ini.

Kawasan Parakan Salak selama ini dikenal sebagai basis warga Ahmadiyah. Sebulan lalu, bahkan terjadi pembakaran Masjid dan berbuntut kerusuhan. Sejak itu, warga di sekitar itu memilih menutup diri.

Hingga kemarin, polisi masih berjaga di sejumlah titik di kawasan ini. Menurut Kepala Kepolisian Resor Sukabumi Ajun Komisaris Besar Guntor Gaffar, penjagaan itu berkaitan dengan pengamanan pascaterbitnya SKB itu. Guntor memastikan, situasinya masih kondusif. “Sejak Senin malam, kami menggeser 10 personel Dalmas ke Parakan Salak, Warungkiara, dan Jampang Kulon,” ujarnya.

Menurut Guntor, personel Dalmas juga ditempatkan di Rayon Utara, Barat dan Selatan. "Aparat Bintara Pembinaan dan Intelijen diturunkan juga untuk menyelidiki informasi dari masyarakat, warga Ahmadiyah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat," ujar Guntor.

Warga Ahmadiyah di kawasan itu tetap beraktivitas seperti biasa. Menurut Ketua Ahmadiyah Sukabumi Asep Saepudin, warganya seperti tidak terpengaruh atas terbitnya SKB itu. "Kami tetap melakukan aktifitas seperti biasa. Masa orang beribadah dilarang-larang," ujar Asep.

Asep sendiri memilih emoh berkomentar soal terbitnya SKB itu. Menurut dia, itu sepenuhnya menjadi urusan pengurus pusat. “Kami di sini melanjutkan hidup damai dengan warga sekitar," ujar dia.

Deden Abdul Aziz

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X