Krakatau Berencana Beli Saham Grange Resources
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Krakatau Steel (Persero) berencana membeli 20-30 persen saham perusahaan penghasil butiran biji besi asal Australia, Grange Resources Ltd. Hingga kini rencana pembelian saham tersebut masih dalam tahap uji tuntas (due diligence). "Perusahaan itu merupakan penghasil butiran biji besi (iron ore pellet), untuk bahan baku baja," kata Staff Khusus Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Alexander Rusli, Senin (9/6).
Nantinya, kata dia, dengan pembelian saham Grange Resources diharapkan pasokan bahan baku baja bagi Krakatau bisa terpenuhi dan aman. "Jadi memang niatnya mencari sumber bahan baku yang paling dekat," ujarnya.
Secara terpisah, Direktur Pemasaran Krakatau, Irvan Kamal Hakim, menolak untuk menjelaskan lebih detail soal rencana aksi korporasi tersebut. Alasannya, hingga saat ini rencana pembelian saham Grange Resources masih belum pasti. "Namanya (Grange Resources, red) mungkin sudah disebut, tapi proses pembeliannya kan harus terbuka," katanya.
Namun, dia membenarkan Krakatau sedang berusaha mencari sumber bahan baku baru. Tujuannya untuk mengamankan pasokan bahan baku, terkait dengan rencana ekspansi Krakatau. "Jadi ini merupakan persiapan kalau nanti kami menggunakan teknologi batu bara, bukan lagi gas," ungkapnya.
Menurut Irvan, langkah ini sekaligus untuk mempersiapkan dan memuluskan skenario eksapansi bisnis mereka dari hulu ke hilir.
Pada akhir 2007, Krakatau juga pernah mendapat tawaran berinvestasi pada pabrik pengolahan butiran baja di Malaysia dari Grange Resources. Sayangnya, Grange Resources belum secara detail menyebutkan nilai investasi dan kepemilikan saham yang ditawarkan kepada Krakatau Steel saat itu (Koran Tempo, 27 Desember 2007).
Investasi Grange Resources di Kemaman, Terengganu, Malaysia, diperkirakan mencapai US$ 550 juta. Pabrik pengolahan baru akan mulai berproduksi pada 2010 dengan kapasitas pabrik sekitar 3,5-6,8 juta ton per tahun. Kapasitas produksi Grange Resources sendiri hingga saat ini mencapai sebesar 6 juta ton baja per tahun.
WAHYUDIN FAHMI