Liang Purba di Antartika
TEMPO Interaktif, : Untuk pertama kalinya, paleontologis menemukan liang binatang berkaki empat yang sudah memfosil di Antartika, dari masa Triassic awal, sekitar 245 juta tahun lampau. Fosil itu tercipta ketika pasir dari sungai yang meluap masuk ke liang tetrapoda itu dan mengeras menjadi cetakan sebuah rongga kosong.
Bagian terbesar dari liang yang terawetkan itu panjangnya sekitar 35,5 sentimeter, lebar 15 cm, dan tebalnya 7,6 cm. Tidak ada sisa bangkai binatang yang ditemukan dalam cetakan liang itu, tapi sedimen mengeras di tiap liang mengawetkan jejak yang dibuat oleh binatang yang masuk dan keluar liang. "Tanda goresan dari penggalian awal binatang itu terlihat di berbagai tempat," kata Christian Sidor, pakar biologi dari University of Washington, Amerika Serikat.
Kurator paleontologi vertebrata di Burke Museum of Natural History and Culture di University of Washington itu menyatakan tim paleontologi berhasil memperoleh bukti bahwa liang-liang itu dibuat oleh binatang yang hidup di dalam tanah. "Jejak itu bukan dibuat oleh sejenis udang karang," kata Sidor, peneliti utama riset tersebut.
Dalam laporan yang dipublikasikan dalam Journal of Vertebrate Paleontology edisi Juni itu disebutkan, liang yang memfosil tersebut dikumpulkan pada penggalian 2003 dan 2005-2006 dari Formasi Fremouw di Gletser Wahl dan Formasi Lashly di Bukit Alla, pinggiran Antartika. Mereka juga menemukan fosil tulang tetrapoda dari periode Triassic di Victoria Land di Antartika, tapi--menurut Sidor--fosil liang itu lebih tua sedikitnya 15 juta tahun daripada fosil tulang itu.
Selain tak ditemukannya fosil tulang, ukuran liang yang relatif kecil membuat Sidor dan timnya menduga bahwa binatang yang hidup di dalamnya mungkin reptil mirip kadal, yang disebut Procolophonid atau mamalia awal yang disebut Thrinaxodon.
Liang-liang semacam itu beberapa di antaranya berisi tulang tetrapoda, pernah ditemukan di Afrika Selatan, wilayah yang dianggap sebagai gudang fosil terkaya di dunia. Liang di Antartika ini nyaris identik dengan liang yang digali di Afrika Selatan. Selama periode Triassic, Antartika dan Afrika Selatan memang terhubung sebagai bagian dari superkontinen yang disebut Pangea.
Temperatur di Antartika yang jauh lebih rendah daripada Afrika Selatan, serta muka laut yang lebih tinggi daripada sekarang, membuat langkanya fosil di sana, terutama dari masa Triassic awal. Pada saat liang itu digali, Antartika ada kemungkinan masih bebas dari es. Namun, temperaturnya sudah lumayan dingin karena kedua daerah tempat liang itu ditemukan berada dalam wilayah kutub.
Sciencedaily













