Utang Sejuta, Demi si Buah Hati

TEMPO Interaktif, Makassar:Orang tua yang baik selalu siap berkorban untuk anaknya. Begitu pula Jumade (32) dan Jusni, istrinya.

Di saat normal, uang sejuta rupiah bagi Jumade yang berprofesi sebagai tukang becak di Makassar, Sulawesi Selatan, tentulah jumlah yang tak sedikit. Namun, karena taruhannya adalah anak bungsunya, Reski (1,5 tahun), ia tak pikir panjang lagi untuk berutang ke para tetangga.

Upayanya tak sia-sia. Penculikan si kecil Reski akhirnya bisa digagalkan oleh kegigihan orang tuanya sendiri.

Kisah ini bermula pada kemarin siang, Kamis (12/6), ketika Reski diajak bermain oleh Krisyanti alias Anti, 21 tahun. Perempuan itu masih bertetangga dengan kroban, dan tinggal di kos-kosan di Jalan Andi Tonro, Makassar.

Saat itu Jumade sedang menarik becaknya. Adapun Jusni sedang menerima tamu di rumah mereka. Karena itu, Ibu muda ini tak begitu hirau watu Anti minta izin membawa Reski, bahkan saat meminta baju ganti buat si kecil.

Namun, setelah lebih sejam, Anti belum juga memulangkan Reski. Jusni pun mulai cemas dan menyusul ke tempat kos Anti. Di sana, sang ibu tidak lagi menemukan Anti dan anaknya. Bahkan, dari keterangan ibu kos, mereka diketahui hendak keluar kota, yakni ke Palopo.

Mendengar itu, Jusni langsung menemui suamianya dan langsung menyusul ke terminal regional Daya, Makassar. Dengan muka panik, sang orang tua menanyai satu persatu sopir yang sedang mangkal di terminal, sembari menggambarkan ciri-ciri anaknya serta perempuan yang membawanya.

Nyaris putus harapan, tiba-tiba Jumade bertemu dengan dengan seorang sopir asal Palopo, yang mengaku melihat perempuan dan anak seperti ciri-ciri yang disebutkan sang orang tua. "Saya melihatnya sedang menumpangi mobil panther rute Palopo, tetapi sejam lalu sudah berangkat," ungkap sang sopir.

Yakin dengan anak yang dimaksud, sang sopir kemudian menawari sang orang tua korban untuk mengantar mencari anaknya, dan meminta imbalan Rp 1 juta, jika anak yang dicari berhasil ditemukan.

Jumade yang hanya berprofesi sebagai tukang becak, tidak pikir panjang dan menyepakati tawaran sopir itu.

Bergegas Jumade kembali ke rumahnya, untuk mencari uang. Tetapi, dengan berprofesi sebagai tukang becak dan harus menghidupi lima anak, tentunya jumlah itu tidak sedikit.

Beruntung, Jumade yang tidak putus asa menemukan jalan. Uang sejuta tersebut berhasil dikumpulkan dengan meminjam ke sejumlah tetangganya.

Setelah terkumpul, Jumade kembali ke terminal dan langsung diantar oleh sopir tadi. Saat Jumade menyusul buah hatinya, Jusni yang menunggu di rumah tak henti meneteskan air mata, bahkan beberapa kali sempat pingsan.

Untung kedua masih berpihak pada Jumade. Sang sopir tidak kehilangan akal. Dengan sigap ia menghubungi rekannya yang sedang mengangkut penculik dan korban melalui telepon seluler. Dengan penjelasan ringkas, ia meminta agar rekan sopirnya itu berhenti bila menemukan kantor polisi dan melaporkan perihal penculikan tersebut.

Kebetulan, sang sopir masih berada dijalan poros Barru. Dan begitu ia menemukan kantor polisi, sang sopir langsung berhenti di Polsek Mallusetase, Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, dan melaporkan ihwal kasus ini.

Tidak lama kemudian sopir yang membawa orang tua korban tiba di Polsek Mallusetase. Jumade langsung mengenali buah hatinya yang menjadi korban penculikan. Sang anak juga demikian, langsung memeluk ayahnya.

Saat itu Polsek Mallusetase langsung berkoordinasi dengan Polsek Tamalate, Makassar, yang membawahi wilayah tempat tinggal korban. Tersangka Anti tiba di Polsek Tamalate sekitar pukul 02.00 Wita, Jumat dinihari.

Tersangka yang berprofesi sebagai wanita tuna susila ini mengakui perbuatannya. Ia mengatakan telah menculik Reski, untuk kemudian dibawa ke Palopo dan akan diberikan pada penadah. Untuk itu ia dijanjikan akan diberi Rp 500 ribu.

Penadah adalah perempuan yang dikenal bernama Sasgita, dan pernah menjadi rekan kerja pelaku di salah satu kafe di Tana Toraja. "Rencananya anak ini akan dikirim ke Malaysia," kata Anti.

Ternyata, selain menculik Reski, pelaku juga mempreteli kalung emas 3 gram yang melingkar di leher korban. Tersangka menjual kalung tersebut sebelum keluar kota seharga Rp 570 ribu. Hasil penjualan kalung itu dibelikan baju dan pakaian dalam, serta beberapa helai pakaian buat korban.

Dari penuturan tersangka diketahui bahwa penculikan kali ini bukan yang pertama kali. Sekitar 3 tahun lalu dirinya pernah menculik anak bernama Reni (1) di terminal Sungguminasa, kemudian dibawa ke Palopo. Saat itu penculikan yang dibantu oleh Salma sukses. Tapi saat itu pelaku hanya mendapat imbalan Rp 50 ribu. Irmawati