Rehhagel Menunggu Pasang
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Dunia sepak bola adalah dunia yang keras. Puja dan cerca bisa cepat berganti dalam hitungan hari. Pelatih Yunani, Otto Rehhagel, sudah merasakannya. Selama enam tahun melatih tim itu, pelatih Jerman ini terus mengalami pasang dan surut yang begitu ekstrem.
Saat ini lautannya sedang surut. Kekalahan 2-0 oleh Swedia pada babak pertama membuat pelatih itu dicerca. "Apa yang bisa dibilang soal pelatih? Yang ada di pikirannya hanyalah mencari hasil seri. Bila kebobolan, hancurlah semua rencananya," kata Vassilis Tsiartas, mantan pemain Yunani. "Saya tak mengerti mengapa tim tak tampil menyerang. Kami memiliki banyak pilihan untuk itu."
Harian Goal Day mengirim pesan buat Rehhagel dalam judul besar: "Pelatih Mengambil Risiko". Kritik pun berdatangan dari para pemain. Mereka menghendaki Yunani tampil lebih menyerang saat melawan Rusia. Para pemain bahkan diberitakan sengaja menggelar pertemuan dengan sang pelatih untuk menyuarakan tuntutan itu, meskipun hal itu kemudian dibantah juru bicara tim Michael Tsalpidis.
Apakah Rehhagel lantas lemah oleh kritik itu? Tidak juga. Dengarlah jawabannya. "Tentu saja kami ingin mencetak gol, tapi harus diingat kami tak memiliki potensi penyerang seperti Jerman," katanya. Tapi, dalam laga hidup-mati melawan Rusia malam ini, dia ada kemungkinan akan memilih empat bek dan bukannya lima seperti saat melawan Swedia.
Kritik dan pujian sudah jadi menu rutin pelatih berusia 69 tahun itu selama menangani Yunani. Dalam pertandingan pertamanya, pada September 2001, Yunani dibekuk Finlandia 5-1. Rehhagel pun lantas dituding pers sebagai tentara bayaran yang datang hanya untuk menikmati liburan di tepi pantai, meski sebelumnya dia sudah melatih banyak klub besar--termasuk Bayern Muenchen dan Werder Bremen.
Mantan bek Hertha Berlin itu beruntung dianugerahi mental yang kukuh. Dia tak luruh dalam tekanan, seperti saat timnya gagal lolos ke Piala Dunia 2002. Pada 2004, ketekunannya berbuah. Yunani yang tak diunggulkan secara mengejutkan jadi juara Piala Eropa. Pujian segera berhamburan buatnya. Warga Yunani menyebutnya dengan sebutan King Otto.
Namun, bulan madu itu tak berlangsung lama. Pada Piala Dunia 2006, Yunani kembali gagal lolos ke putaran final. Rehhagel tak lantas tenggelam. Kegagalan itu dengan manis dia tebus dengan keberhasilan lolos ke putaran final Euro 2008 sebagai juara grup.
Kini tugas berat lain menantinya. Dia kini terjepit dalam persaingan di Grup D Euro 2008. Kritik sudah mulai deras menyerbunya. Mungkinkah dia bisa kembali mengubah semuanya jadi pujian seperti sebelumnya? Malam ini kita lihat jawabannya. NURDIN | Berbagai Sumber
Komentar (0)
Berita Terkait
Foto Terbaru
Top Stories
Editor's Choice
- Tiga Bandara Berpotensi Terkena Dampak Kabut Asap
- BMKG Batam: Asap Kebakaran Hutan Makin Pekat
- Twitter Akuisisi Startup Spindle
- Cara Foto: Superman Membentuk Ototnya
- Tantangan Jokowi-Ahok Buat Lurah-Camat-Wali Kota
- Kabut Asap di Singapura Diprediksi Bertahan Lama
- DPR Khawatir Pemerintah Ragu Naikkan Harga BBM

