Tiga Orang Bunuh Diri dalam Tiga Hari di Riau

TEMPO Interaktif, Pekanbaru:
Selang dalam tiga hari, tiga kepala rumah tangga di Riau didapati melakukan aksi bunuh diri. Dua orang melakukannya dengan senjata tajam, dan satu lagi dengan meminum racun. Dua dari mereka tewas, sementara satu pelaku lagi terluka parah dan masih dirawat.

Satu dari tiga pelaku bahkan melakukan serangkaian aksi pembantaian terlebih dulu sebelum akhirnya menggorok leher sendiri. Istri, mertua, dan anak kandungnya menjadi korban dari tindakan brutal itu. Sang anak yang baru berusia 2 tahun tewas di tempat.

Dugaan sementara, polisi menyebut ketiganya melakukan bunuh diri lantaran stres, akibat penyakit dan kemungkinan dipicu himpitan ekonomi.

Ahad (15/6), sekitar pukul 13.30 WIB dinihari, Saiman Samosir, 50 tahun, warga Desa Kubu Panipahan, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, dikabarkan bunuh diri dengan cara minum racun rumput merek “Rondhap”.

Menurut adik iparnya, Saidah Tampubolon, Saiman, petani dengan lima anak ini, nekat menenggak racun setelah beberapa jam sebelumnya sempat cekcok dan bertengkar hebat dengan istrinya, Tarida Tampubolon (47).

Entah bagaimana, selepas bertengkar, Saiman keluar menuju belakang rumah. Dua-tiga jam kemudian, Tarida Tampubolon mendengar erangan suaminya di belakang rumah, dan mendapati Saiman berguling guling di tanah. “Subuh tadi mau dibawa ke rumah sakit di Bagan Siapapi, dia meninggal di perjalanan. Abang minum racun 'Rondhap' banyak-banyak, “ kata Saidah Tampubolon.

Kepada Tempo, Saidah Tampubolon mengatakan almarhum Saiman sebelumnya bekerja sebagai anak buah kapal di sebuah kapal barang dalam rute pelayaran Bagan Siapiapi (Riau) – Belawan (Sumatera Utara). Namun, sudah dua bulan ini ia menganggur dan ikut istrinya bertani di Desa Kubu.

“Mereka sering cekcok setelah dua anaknya yang sebelumnya sekolah di salah satu SMU di Medan (Sumatera Utara) juga harus berhenti karena tak sanggup membiayai lagi. Setelah kena PHK, sudah tiga bulan ini mereka juga kalut, lantaran anak bungsunya sakit-sakitan dan butuh diut banyak untuk berobat,” kata Saidah.

Kepolisian Resort Rokan Hilir mengaku belum mengetahui penyebab nekatnya Saiman Samosir minum racun serangga hingga tewas itu. Menurut Kapolres Rokan Hilir, Ajun Komisaris Besar Agus Sarjito, pihaknya sudah memerintahkan Polsek Kubu untuk melakukan pemeriksaan atas kasus bunuh diri Saiman Samosir.

“Masih dicari tahu. Belum tahu apa dan bagaimananya. Nanti dikabari,” Agus Sarjito. “Apakah lantaran persoalan ekonomi atau persoalan lain, masih kita cari tahu terlebih dahulu.”

Aksi bunuh diri juga dilakukan Jampen Purba, 34 tahun, warga Jalan Selamat RT 02 /03 Sri Meranti, Rumbai Pekanbaru. Jampen Purba tewas bunuh diri dengan cara menusuk-nusuk dan menyabit lehernya sendiri dengan celurit, Jumat (13/6), di hadapan istri dan 3 anaknya.

Hari itu, sekitar pukul 12.30 WIB, Jampen Purba, sopir dan buruh lepas di salah satu perusahan ekspedisi di Pekanbaru, tiba-tiba meradang. Ia berlari ke kamar dan berteriak-teriak sambil menusuk-nusukkan ujung celurit dan menyabit sendiri lehernya.

“Kejadiannya begitu cepat. Ny R. Siahaan, istri korban dan tiga anaknya terkesima dan tidak sempat menolong. Keluarganya ketakutan,” ujar Kapolsek Rumbai, Ajun Komisaris Bainar, Minggu (15/6) di Pekanbaru.

Hanya dalam hitungan menit, Jampen Purba rubuh dan tewas di tempat. Meski warga sekitar berdatangan, menurut Bainar, warga takut masuk. Mereka mengetahui korban stres dan di tangannya ada celurit tajam.

Keluarga dan tetangga korban menyebut,almarhum Jampen Purba stres lantaran penyakit kanker tenggorokan yang dideritanya selang setahun terakhir. Keadaanya makin parah, setelah Jampen dirumahkan perusahaan ekspedisi, tempatnya bekerja dalam 7 tahun terakhir.

“Saksi-saksi menyebut, akibat penyakitnya, almarhum berhenti bekerja dan tidak dapat berobat. Namun, bagaimana pastinya, masih kita dalami,” kata AKP Bainar. “Keluarga masih berduka dan belum dapat kita mintai penjelasan.”

Aksi bunuh diri paling sadis dilakukan Afrizal, 35 tahun. Ayah dua anak, warga jalan Asoka Marpoyan Damai, Pekanbaru, ini menggorok lehernya sendiri, pada Sabtu (14/6) dinihari.

Sadisnya, sebelum bunuh diri, Afrizal, buruh pertukangan perabot itu, terlebih dahulu membantai mertuanya, Halimah (63), istrinya Zola (34) dan anak kandungnya Nazwa (2). Ketiganya dibantai saat tidur pulas.

Afrizal sendiri kemudian menggorok dan menancapkan ujung parang tajam ke lehernya sendiri. “ Warga yang mendengar ribut-ribut langsung mendatangai tempat kejadian. Namun, warga takut memberi bantuan lantaran takut dibacok Afrizal.

“Baru setelah tidak mendengar suara gaduh lagi, warga masuk ke dalam rumah dan melihat Afrizal tergeletak disamping mayat anak kandungnya, Nazwa,” kata perwira di Kepolisian Kota Besar Pekanbaru, Komisaris Apriizal.

Komisaris Apriizal menyebut aksi brutal berujung upaya bunuh diri itu diduga kuat lantaran Afrizal stres atas kebutuhan uang yang cukup besar. Apalagi, beberapa tetangga korban menyebut Halimah, mertuanya, yang baru dua hari datang dari kampung itu, kabarnya mendesak Afrizal lantaran butuh duit lumayan banyak.

“Afrizal, Zola istrinya dan Halimah masih dalam perawatan intensif. Mudah mudahan mereka selamat. Sementara Naswa tewas ditempat kejadian,” kata Apriizal. “Kami masih cari tahu penyebab pastinya aksi bunuh diri yang diawali pembantaian sadis itu. Aprizal, Zola dan Halimah hingga minggu pagi tadi masih belum sadarkan diri di RS Polda Riau. Mereka belum dapat kami mintai keterangan.” Jupernalis Samosir