Eropa Masih Ragukan Regulator Penerbangan Indonesia


TEMPO Interaktif, Denpasar:Larangan bepergian (travel ban) oleh Uni Eropa terhadap maskapai Indonesia lebih disebabkan oleh keraguan terhadap konsistensi regulator penerbangan dalam menjaga keselamatan. Secara teknis, maskapai Indonesia dianggap telah memenuhi syarat.

Menurut Menteri Perhubungan Jusman Syafii Jamal empat maskapai Indonesia, yakni Garuda, Mandala, Premi Air, dan Airfast, telah mendapatkan sertifikasi teknis standar internasional. “Kalau soal regulator masih disoroti, paling tidak maskapai kita harus memperoleh izin masuk ke UE,” kata Jusman di sela-sela pembukaan “D8 Working Group on Civil Aviation”, Selasa (17/6). Pada 9-10 Juli nanti, Jusman akan kembali bertemu dengan Uni Eropa untuk membahas soal keselamatan penerbangan.

Soal regulasi penerbangan, kata Jusman, Indonesia akan bersikap terbuka untuk memenuhi syarat yang diinginkan Eropa, termasuk untuk melakukan pengawasan. “Kita akan sangat welcome kecuali bila mereka ingin berperan sebagai regulator di negara kita,” ujarnya.

Mengenai peluang pencabutan travel ban, menurut Jusman, tidak semata-mata masalah teknis penerbangan dan regulasi. Dia khawatir dalam proses voting, negara-negara dengan maskapai penerbangan yang kurang kuat atau tidak pernah datang ke Indonesia akan menolak pencabutan itu. Untuk pencabutan dibutuhkan dukungan 27 negara, meski untuk menjatuhkannya hanya dibutuhkan suara dari 2 negara.

Ia berharap, proses pencabutan itu tidak akan bernuansa politis dan diskriminatif. Faktanya, ketika terjadi kecelakaan pesawat di Brussel sebulan lalu, maskapai pemilik pesawat ternyata tidak dikenai travel ban karena berasal dari salah-satu negara Eropa. ”Kita ingin fairness benar-benar diterapkan,” tegasnya.

Untuk keselamatan penerbangan, Garuda Indonesia sudah bekerja sama dengan maskapai KLM dari Belanda. Dengan pengakuan dari KLM yang berstandar internasional, peluang membuka travel ban dari Eropa diharapkan akan lebih besar. Rofiqi Hasan

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X