Ketika Lapangan Dilapis Ulang


TEMPO Interaktif, Jakarta:Lapangan sepak bola dengan drainase buruk ternyata tak hanya terdapat di negara-negara berkembang. Stadion St Jakob Park di Basel, Swiss, ternyata juga tidak memenuhi standar yang ditetapkan oleh Badan Sepak Bola Eropa (UEFA).

Buktinya, lapangan tersebut kini dalam kondisi rusak parah setelah dipakai pertandingan antara Turki dan Swiss pada Rabu lalu. Saat itu hujan lebat memang turun. Tapi akibat buruknya sistem drainase, rumput dan lumpur bercampur menjadi satu. Lapangan pun menjadi rusak.

Padahal di stadion tersebut masih akan berlangsung tiga pertandingan putaran final Euro 2008, yakni dua pertandingan babak perempat final dan satu pertandingan semifinal, yang rencananya berlangsung pada 25 Juni.

Curah hujan yang turun di Kota Basel pada Rabu lalu itu tercatat sebanyak 180 liter per meter persegi dalam satu jam. Adapun sistem drainase di stadion tersebut hanya mampu meresap 100 liter air dalam satu jam.

Lantaran buruknya kondisi lapangan, UEFA terpaksa memutuskan memperbarui rumput yang ada. Ditaksir dana yang harus dikeluarkan adalah US$ 306,720 atau sekitar Rp 2,8 miliar.

Kemarin pengerjaan perbaikan lapangan dimulai. Traktor besar dan beberapa truk tampak hilir mudik mengangkat rumput lama yang rusak. Pengerjaannya sendiri dilakukan dua jam setelah laga Swiss dan Portugal, Minggu lalu.

Untuk mengganti rumput yang rusak itu, UEFA terpaksa mendatangkan rumput yang lebih bagus dari Belanda. Tak kurang dari 26 truk dikerahkan untuk mengangkut rumput-rumput tersebut.

"Akan menimbulkan masalah jika lapangan lama tetap digunakan untuk pertandingan ataupun latihan," ucap juru bicara UEFA, Pascale Voegeli. "Masalahnya adalah lapangan akan semakin rusak jika terus-menerus digunakan."

Lapangan baru diperkirakan bakal rampung pada hari ini. Dua hari diistirahatkan sebelum kembali digunakan, menurut UEFA, sudah cukup bagi rumput-rumput tersebut menempel kuat.

"Sebelum kejuaraan berlangsung, lapangan Stadion St Jakob Park berada dalam kondisi sempurna untuk pertandingan," kata Voegeli. "Seluruh stadion rampung pada April lalu dan dua hari kemudian pertandingan pertama digelar."

Rumput di stadion tersebut mengelupas saat pertandingan antara Turki dan Swiss berlangsung, yang berkesudahan 2-1 untuk Turki. Air yang menggenang membuat para pemain terpaksa menendang bola sekuat tenaga dan akibatnya rumput di bawahnya ikut tercabut.

Inilah untuk pertama kalinya sebuah lapangan harus mengalami perbaikan saat berlangsung kejuaraan tingkat Eropa, tapi Voegeli meyakinkan bahwa hal itu bukan menjadi masalah. Bahkan, bila ada lapangan lain yang harus diperbaiki, pihaknya siap dengan segala peralatan yang dibutuhkan.

"Masalahnya bukan pada bagaimana kami harus secepatnya mengganti permukaan lapangan, tapi kami berharap ini adalah kejadian pertama dan terakhir yang harus kami tangani," ujar Voegeli.

Pelatih Belanda, Marco van Basten, melontarkan kritik terhadap pembongkaran lapangan yang akan digunakan untuk menggelar pertandingan penentu di Grup D antara Swedia dan Rusia, Sabtu nanti, itu.

"Mereka terlalu menganggap remeh hal-hal seperti ini," kata Van Basten, yang sebelumnya juga menyesalkan buruknya kualitas lapangan yang digunakan saat berlangsung final Liga Champions antara Chelsea dan Manchester United di Moskow, Rusia, beberapa waktu lalu.

"Banyak pemain yang terpeleset. Saya kira ini bukan contoh bagus bagi persepakbolaan Eropa, yang menerapkan standar tinggi untuk kejuaraan bertaraf internasional," ucap Van Basten.

Kapten Chelsea, John Terry, terpeleset saat akan melakukan tendangan penalti dalam laga final Liga Champions itu. Akibatnya, Chelsea gagal merebut trofi Liga Champions untuk pertama kalinya dan MU keluar sebagai juara.AP | AFP | ATM

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X