Mangkir di Acara Penting, Presiden Tegur M. Lutfi


TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegur Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Muhammad Lutfi karena ketidakhadirannya dalam pembukaan Munas ke V Himpunan Kawasan Industri (HKI) di Istana Negara, Kamis (19/6) siang.

Saat menyampaikan penjelasan tentang empat pengelompokkan utama masalah pengembangan kawasan industri yaitu infrasturktur, perizinan, perpajakan dan keamanan, Presiden menyadari ketidakhadiran M. Lutfi di antara para menteri perekonomian dan hadirin.

“Saya tidak melihat kepala BKPM. Di mana ini?,” kata Presiden tegas.

Pertanyan Presiden itu dijawab oleh salah satu undangan bahwa Lutfi pergi ke Afrika Selatan. “Apa ada yang mewakili?” tanya Presiden kemudian.

Namun, tidak ada satupun undangan yang mengacungkan tangan menyatakan perwakilan Lutfi. Istana Negara yang dihadiri ratusan undangan mendadak hening.

Mengetahui hal ini Presiden terlihat emosional. “BKPM nggak engange ini. Luar negeri penting, tapi dalam negeri juga penting.”

Presiden kemudian meminta Lutfi menindaklanjuti dan ikut menyelesaikan empat pokok masalah itu. “Beritahu saudara Lutfi nanti,” kata Presiden dengan nada tegas.

Pada awal pertemuan, Presiden menyatakan bahwa pembukaan Munas HKI ini sangat penting. Kapolri Jenderal Sutanto yang hendak pergi ke Aceh untuk meninjau hutan pun diminta Presiden menunda keberangkatannya.

“Kapolri mustinya berangkat ke Aceh. Acara ini penting, ada sejumlah isu keamanan yang harus diselesaikan. Juga hadir para menteri. Ada kegiatan yang lain, (tapi) mengingat masalah berkaitan, ikut hadir pula,” katanya.

Tidak seperti lazimnya, pada pertemuan kali ini Presiden meminta para menteri merespons identifikasi masalah kawasan industri. Pada bagian akhir pertemuan, Presiden meminta Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto memaparkan masalah infrastruktur, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati soal perpajak, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal soal perhubungan, dan Kapolri Jenderal Sutanto soal keamanan kawasan industri.
Ninin Damayanti

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X