Ratusan Mahasiwa Berdemo di Markas Polres Jakarta Selatan


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 300 mahasiswa mendatangi kantor Kepolisian Resort Jakarta Selatan, Jumat malam ini (20/6). Mereka menuntut pihak kepolisian untuk bertanggung jawab atas meninggalnya korban kekerasan Universitas Nasional (Unas), Maftuh Fauzi.

"Kami mendesak pencopotan Kapolres Jakarta Selatan," ujar Ria Mariana, alumnus Universitas Nasional turut dalam aksi itu.

Ria menerangkan, aksi kali ini didukung sejumlah rekan mahasiswa dari sejumlah kampus. Beberapa di antaranya berasal dari Universitas Moestopo, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Al-Azhar dan Universitas Mpu Tantular. Beberapa dari mereka berangkat dari Unas dan sebagian lain sudah menunggu di depan Markas Polres Jakarta Selatan.

Maftuh meninggal pada Jum'at siang sekitar pukul 11.20 WIB, setelah sempat dirawat selama sepuluh hari di Rumah Sakit Pasar Rebo, RS Universitas Kristen Indonesia, dan RS Pusat Pertamina.

Mahasiswa Unas jurusan Bahasa Inggris itu dirawat lantaran merasakan nyeri di bagian kepala. Penjelasan versi RSPP ia meninggal karena terjangkit HIV.

Ria menampik penjelasan terakhir tim dokter RSPP. Menurut dia, penyebab kematian itu hanyalah akal-akalan pihak rumah sakit dan pihak kepolisian untuk mengalihkan praktek kekerasan yang dialami Maftuh.

Buktinya, kata dia, berdasarkan keterangan resume penyakit yang dikeluarkan oleh tim dokter RS UKI, Maftuh dirawat karena trauma terbuka di bagian kepala.

Hingga berita ini ditulis, seluruh mahasiswa masih berkerumun di depan gerbang markas Polres Jakarta Selatan. Mereka melakukan orasi secara bergiliran sambil meneriakkan yel-yel.

Sejumlah polisi tampak menyebar di antara kerumunan demonstran. Pihak kepolisian juga sudah menyiapkan sebuah kendaraan meriam air untuk mengantisipasi kerusuhan.

Ria menerangkan, aksi serupa akan kembali mereka lakukan esok hari di tempat yang sama. Proses konsolidasi tengah mereka lakukan dengan sejumlah rekan mahasiswa dari kampus lain.

Tuntutan mereka tidak berhenti pada pencopotan Kapolres, melainkan juga penolakan kenaikan Bahan Bakar Minyak. "Musibah ini adalah dampak dari keputusan pemerintah," ujarnya. Riky Ferdianto

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X