Penghapusan Segel Masjid Ahmadiyah Diprotes

TEMPO Interaktif, CIANJUR:Ratusan warga dari organisasi masyarakat Islam mendatangi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Cianjur, Jawa Barat Rabu (25/6). Mereka mengadukan Kepala Kepolisian Sektor Sianjur Ajun Komisaris Pramono yang mereka duga memberi izin penghapusan segel masjid Al Ghofur milik Ahmadiyah oleh pengikut Mirza Ghulam Ahmad ini.

Ketua Himpunan Santri Bersatu Aceng Ubaidillah mengatakan, masjid itu disegal tiga pekan lalu agar tidak digunakan untuk aktifitas ibadah dan syiar agama oleh Ahmadiyah. Tapi, segel berupa cat di tembok dan kaca masjid itu dihapus kembali oleh jemaah Ahmadiyah. "Karena itu kami minta Kepala Polsek Cianjut dihadiran di sini," kata Aceng di kantor Dewan.

Menurut Aceng, penghapusan segel itu memancing kemaraham umat Islam lain yang tidak setuju dengan keberadaan Ahmadiyah. Dia menilai menghapus segel sama dengan menolak surat keputusan bersama yang ditandatangani Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung beberapa waktu lalu.

Aceng mengatakan, jika penghapusan segel diizinkan polisi, pihaknya ingin meminta klarifikasi apakah itu sikap institusi atau sikap pribadi. Dia juga mempertanyakan apakah kebijakan ini sepengetahuan Kepala Kepolisian Resor Cianjur sebagai atasan. "Dia harus memberi penjelasan agar tidak terjadi tindakan anarkis," katanya.

Sampai kemarin Pramono tidak bisa dihubungi Tempo. Telepon genggam yang biasa digunakan tidak aktif. Pramono sendiri tidak hadir dalam rapat paripurna DPRD Cianjur. Kepala Satuan Intelijen dan Keamanan Kepolisian Resor Cianjur Ajun Komisaris Muhibudin enggen menjelaskan kebenaran izin yang diberikan Pramono.

Menurut Muhibudin, aparat kepolisian tetap menjalankan fungsi sebagai pengayom dan pelindung masyarakat. Dia berjanji persoalan yang terkait dengan Ahmadiyah akan dibahas lebih lanjut. Tapi, seorang sumber Tempo di Kepolisian Sektor Cianjur meragukan klaim jemaah Ahmadiyah. "Tidak mungkin komandan memberikan izin," katanya. Dia justru mengingatkan klaim Ahmadiyah soal izin dalam insiden Monas beberapa waktu lalu.

Deden Abdul Aziz