Pesta Euro, Semarak Gay


TEMPO Interaktif, Jakarta:Kemeriahan pesta Euro 2008 di Swiss dan Austria bukan hanya milik lelaki dan perempuan normal di seluruh dunia. Turnamen sepak bola terbesar sejagat setelah Piala Dunia ini juga diminati kaum gay dan lesbian.

Karena itulah sebuah bar dan lounge khusus kaum homo dibuka di pinggiran Sungai Limmat, pusat Kota Zurich, Swiss. Namanya The LockerRoom dan berlokasi tidak jauh dari tempat berkumpul para penonton sepak bola. Bar ini mampu menampung 130 tamu dan memiliki pelbagai fasilitas, seperti ruang terbuka, panggung, dan televisi layar lebar untuk menonton pertandingan.

"Kami ingin berada di tengah pesta dan bukan di pinggir keramaian," kata Rolando Fusco, salah seorang manajer The LockerRoom. Bar itu dibuka sehari sebelum pesta pembukaan Euro 2008 digelar pada 7 Juni lalu untuk mengantisipasi semangat kaum homo mendukung tim kesayangan mereka.

Ucapan Fusco bukan sekadar omong kosong. Kaum homoseksual juga sangat menggemari sepak bola. Bahkan sebuah klub bagi manajer homo dan perkumpulan bankir gay di Swiss sudah memesan tempat untuk menyaksikan pertandingan-pertandingan tertentu.

Tentu saja bukan hanya itu yang ditawarkan. The LockerRoom juga menggelar pesta khusus pada 20 Juni lalu dengan mendatangkan ikon gay dari Inggris, Boy George. Ia akan menghibur para lelaki abnormal dalam urusan seks itu dengan menari di atas meja.

Sebagai bagian dari kampanye antihomofobia, bar itu memamerkan 32 poster terbaik yang mengikuti lomba bertajuk "Homo: Busuk" di Ibu Kota Wina, Austria. Sebelumnya, poster-poster itu dipajang di kompleks seni The Museumsquartier, Wina, beberapa menit berjalan kaki dari tempat berkumpulnya pendukung.

Poster yang dipamerkan termasuk sang pemenang, yakni poster yang menggambarkan seorang pemain berkostum tim nasional Austria yang memakai ban kapten di lengannya bertulisan "Gay". Poster pilihan para juri itu adalah milik Martina Schoenherr, mahasiswa seni sebuah universitas di Wina. Karya lainnya berjudul Gay-Kami Semua Bermain dengan Bola yang dibuat oleh Milen Gelishev dari Bulgaria.

"Dalam sepak bola, gay dan lesbian sama sekali tidak mempunyai kesempatan. Jadi kami melihat perlunya tekanan kuat," ujar Hannes Sulzen bacher, salah seorang penggagas perlombaan poster itu.

Kenyataannya memang demikian. Kaum gay dan lesbian memang belum diterima di dunia sepak bola. Hasil jajak pendapat yang dilakukan surat kabar The Independent terhadap pesepak bola profesional menunjukkan industri ini masih antihomo.

Sebanyak 57 persen pemain masih homofobia. Angka ini meningkat menjadi 64,4 persen bagi pemain yang memiliki pasangan gay.

Menurut Peter Clayton, pemain takut membuka identitas mereka karena akan merusak citra diri dan klub mereka. "Mereka adalah aset dan memiliki nilai pasar," ujarnya. Penasihat di Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) ini adalah satu-satunya orang yang berani mengumumkan bahwa dirinya homo. Lelaki 54 tahun ini juga pendiri Stonewall FC, klub sepak bola gay pertama di Inggris. Bangkok Post | The Independent | Faisal Assegaf

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X