Topik
Tren Baru Warisan Euro 2008
TEMPO Interaktif, WINA:Gemerlap Euro 2008 kini telah usai. Namun, banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kompetisi sepak bola tertinggi di Eropa itu, antara lain kian ngetrennya penggunaan formasi 4-5-1 dan terjadinya pergeseran pendekatan dalam urusan melatih tim.
Pola 4-5-1 atau dengan variasi 4-2-3-1 tak pelak telah menjelma menjadi primadona baru pada turnamen ini. Spanyol dan Jerman sama-sama melaju ke final berbekal formasi itu. Belanda, yang tampil menawan di babak penyisihan grup, juga mengandalkan pola permainan serupa.
Pelatih Arsenal, Arsene Wenger, melihat munculnya tren ini karena banyak tim yang diberkati melimpahnya pemain berbakat di lapangan tengah. "Tim yang tak menerapkan pola itu akhirnya mengalami penderitaan dan tekanan dalam pertarungan di lini tengah. Jerman, yang pada awal pertandingan menggunakan pola 4-4-2, akhirnya lebih memilih 4-5-1," kata pelatih asal Prancis itu.
Jerman memang memulai turnamen dengan memilih pola 4-4-2 serta menduetkan Miroslav Klose dan Mario Gomez di depan. Namun, setelah Gomez terus mandul, pola 4-2-3-1 akhirnya jadi pilihan dengan tujuan memberikan keleluasaan kepada Michael Ballack untuk merangsek menyerang.
Spanyol juga semula menggunakan pola 4-4-2 dengan menduetkan David Villa dan Fernando Torres di lini depan. Namun, cederanya Villa pada menit awal pertandingan semifinal membuat pelatih Luis Aragones bereksperimen dengan 4-5-1, yang terbukti lebih sukses, bahkan membuat permainan timnya lebih enak dilihat.
Pelatih gaya baru
Tren lain yang muncul di Piala Eropa ini adalah makin banyaknya pelatih yang meninggalkan gaya ortodoks yang menekankan disiplin keras dan pendekatan atasan-bawahan. Di Austria-Swiss muncul para pelatih yang membawa pendekatan-pendekatan anyar dan memposisikan diri sebagai teman bagi pemainnya.
Pelatih Belanda, Marco van Basten; pelatih Kroasia, Slaven Bilic; dan pelatih Jerman, Joachim Loew; adalah tiga pelatih yang bisa digolongkan pada jajaran pembawa angin segar itu. Posisi mereka berseberangan dengan pelatih yang mengusung gaya lama, seperti pelatih Prancis, Raymond Domenech, dan pelatih Yunani, Otto Rehhagel.
Sebelum turnamen ini Basten jelas bukan favorit pilihan pers. Sebab, selalu ada yang dikritik dari pelatih muda ini. Namun, di mata para pemain Belanda, pelatih ini adalah sosok yang sempurna. Dia bisa menjadi teman berkelakar di lapangan atau di meja makan.
Basten juga bersedia menghadirkan inovasi baru dalam cara melatih. Dia, misalnya, menghukum pemain yang telat berlatih atau telat datang untuk makan malam dengan cara unik: harus menceritakan anekdot hingga semua rekan setimnya tertawa.
Di lapangan, Basten juga berani melakukan hal yang menyempal dari buku teks kepelatihan. Saat timnya tertinggal, misalnya, pelatih yang kini sudah lengser dari tim nasional Belanda itu berani memasukkan penyerang. Pendekatan berseberangan justru terus ditunjukkan Domenech selama Euro ini.
Bilic juga jadi sorotan karena membawa gaya yang tak biasa di tim Kroasia. Bilic, yang juga seorang gitaris, memilih menyetel musik rock untuk menyemangati timnya di ruang ganti. Tingkahnya yang eksentrik di pinggir lapangan juga membuat senang para fotografer.
Loew juga tetap meneruskan inovasi kepelatihan yang telah dirintis Juergen Klinsmann di tim Jerman. Untuk menghadapi Euro 2008, misalnya, dia mendatangkan pelatih basket untuk membantu pemainnya bertahan tanpa melanggar lawan.
Kedekatan Loew dengan pemainnya jadi nilai tambah yang luar biasa. Saat dia dihukum tak boleh mendampingi timnya di babak perempat final, misalnya, para pemain Jerman justru lebih mengukuhkan tekad untuk menang. "Kami bermain untuk Jerman, juga untuk pelatih kami," kata Clemens Fritz, salah seorang pemain Jerman. NURDIN | Berbagai Sumber






