Topik
Mari Berpelukan, Musuh!
TEMPO Interaktif, : Kenangan indah menyergap Michel Platini saat mencukur jambangnya di kamar mandi. Presiden UEFA ini terkenang Luis Arconada, kiper Spanyol yang dia permalukan pada final Piala Eropa 1984. Karena kepiawaian Platini, ditambah blunder Arconada, Prancis keluar sebagai juara dengan menang 2-0.
Tiga hari lalu dari Wina, Austria, Platini lantas menelepon Arconada, mengundangnya menyaksikan partai final Euro 2008. "Apakah kamu bercanda?" tanya Arconada, yang tengah berada di rumahnya di San Sebastian, Basque, Spanyol. "Tentu saja aku dengan senang hati menerima undanganmu."
Platini tak bermaksud mengejek Arconada dengan mengundangnya. "Sebuah hal yang menyenangkan bila mengundang mantan rival," kata pria berusia 53 tahun itu. Bagi Arconada, undangan Platini adalah kado ulang tahunnya yang ke-54, yang jatuh tepat sehari sebelum Platini meneleponnya.
Bertarung menjadi yang terbaik di lapangan adalah satu hal. Bersahabat di luar lapangan adalah hal lain. Bagi orang-orang seperti Platini dan Arconada, permusuhan mereka sudah usai seiring dengan peluit panjang wasit berbunyi.
Untuk sebagian besar pendukung Spanyol, kesalahan Arconada tak termaafkan. El Pulpo (Si Gurita)--julukannya--adalah kiper terbaik Spanyol 1970-1980-an. Dia mengawal jala tim Matador sebanyak 68 kali.
Hanya, pada final Piala Eropa 1984, yang dilangsungkan di Paris, Arconada melakukan sebuah blunder saat menahan bola tendangan bebas Platini. Bola sebenarnya sudah bisa dia tangkap, tapi entah mengapa si kulit bundar tiba-tiba lepas, bergulir di bawah tubuhnya dan melewati garis mistar.
Arconada lantas menjadi idiom baru. Siapa pun yang melakukan kesalahan semacam itu akan disebut telah melakukan "Arconada". Kiper Spanyol penerusnya, Andoni Zubizarreta, salah satu kiper terbesar negeri itu, pernah melakukan kesalahan yang sama. Itu terjadi pada partai perdana Spanyol di Piala Dunia 1998.
Bola tendangan Garba Lawal sudah berada dalam dekapan Zubizarreta, tapi tiba-tiba lepas lagi. Spanyol pun harus menyerah 2-3 kepada Nigeria.
Arconada sangat tertekan atas terjadinya gol pertama Prancis itu. Namun, Platini justru membesarkan hatinya. "Dia tak boleh menyalahkan dirinya sendiri, itu bukan kesalahannya. Gol saya tak dapat dia hindarkan," kata pencetak sembilan gol pada Piala Eropa 1984 itu.
Bila dibanding insiden Frank Rijkaard dan Rudi Voeller, sakit hati Arconada kepada Platini tak ada apa-apanya. Rijkaard, gelandang Belanda, dan Voeller, striker Jerman, saling meludah saat kedua tim bertemu pada Piala Dunia 1990 di Italia.
Awalnya Rijkaard mendapat kartu kuning karena menjegal Voeller. Sambil berlalu, Rijkaard meludahi rambut Voeller. Wasit malah memberi kartu kuning kepada Voeller, yang bermaksud mengadukan tindakan Rijkaard itu.
Pada kesempatan berikutnya, Voeller melakukan diving di kotak penalti Belanda. Kiper Hans van Breukelen marah. Rijkaard mendukung Van Breukelen dengan menjewer telinga Voeller dan menendang kakinya.
Rijkaard dan Voeller kemudian diusir wasit. Rijkaard masih sempat dua kali meludahi Voeller ketika keduanya beriringan keluar dari lapangan. Pers Jerman menyebut insiden ini sebagai "insiden ludah llama". Llama, binatang mirip unta yang memiliki jambul, mirip rambut Rijkaard.
Di kemudian hari Rijkaard mengungkapkan penyesalannya. "Sebenarnya saya selalu menghormati Rudi, tapi saat itu saya marah karena mendapat kartu merah. Saya meminta maaf kepadanya setelah pertandingan. Saya gembira, dia menerimanya. Setelah bertahun-tahun kemudian, kami kerap menertawakan bersama insiden itu."
Begitu pula yang dikatakan Voeller. "Kami membutuhkan waktu lama untuk berteman. Tapi menyenangkan, kami sudah melupakan kejadian itu."
Tak ada yang lebih sakit hati kepada Diego Maradona selain rakyat Inggris. Yang paling nelangsa adalah kiper Peter Shilton. Di depan Shilton, Maradona mencetak gol menggunakan tangannya dan membuat Argentina menang 2-1 pada perempat final Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Januari lalu Maradona bertandang ke London, ibu kota Inggris. Secara terbuka, Si Bogel meminta maaf kepada rakyat Inggris atas insiden yang dikenal sebagai "gol tangan tuhan" itu.
Shilton tak menerima permintaan maaf itu. "Terlambat baginya," kata Shilton. "Dia memiliki banyak waktu sebelum ini untuk meminta maaf, tapi tak dia lakukan. Maradona membuat saya sakit."
Namun, generasi muda Inggris memaafkan Maradona. Joe Cole, gelandang nasional Inggris dari klub Chelsea, memuja Maradona hampir-hampir seperti rakyat Argentina memuja. "Si tangan tuhan" mengunjungi markas Chelsea dan bertemu dengan Cole.
"Saya memiliki foto Zico (mantan pemain legendaris Brasil) yang saya jadikan screensarver di komputer saya," kata Cole. "Tapi sekarang saya ganti dengan foto Maradona."
Di Wina, dinihari tadi, Arconada berjabat tangan dengan Platini. Bila Spanyol menundukkan Jerman, sesal Arconada mungkin terhapus. Sebaliknya, perasaan Platini mungkin campur aduk.
"Saya berpikir bagaimana rasanya piala yang saya rebut dari para pemain Spanyol 24 tahun lalu harus kembali saya pegang untuk saya serahkan kepada pemain Spanyol," kata Platini tiga hari lalu. AFP | UEFA | ANDY MARHAENDRA
