Deutsche Bank : Investasi Komoditi dan Agrikultur Menjanjikan

TEMPO Interaktif, Jakarta:Meningkatnya inflasi dan harga minyak mentah, membuat pasar komoditas menjadi ladang investasi yang menjanjikan. Untuk mengantisipasi kerugian akibat, Deutsche Bank merekomendasikan peningkatan investasi di bidang komoditi dan agrikultur.

"Investasi yang paling menarik adalah bidang pertanian," kata Chief Investment Officer Asia Private Wealth Management Deutsche Bank, Soon-Gek Chew, dalam paparan ekonomi dan pasar gloabal 2008, Selasa (8/7) di Jakarta.

Peningkatan populasi dunia telah mengakibatkan tingginya permintaan terhadap pangan. Selain itu, ujar Soon Gek, peningkatan pendapatan masyarakat juga menjadi penyebab tingginya permintaan protein hewani. "Banyaknya permintaan protein meningkatkan permintaan gandum dan biji-bijian lain untuk pakan ternak," ujarnya. Ditambah lagi pemakaian biji-bijian seperti gandum dan jagung sebagai bahan baku bioetanol.

Oleh Karena itu, Soon-Gek yakin bahwa reksadana saham yang diinvestasikan pada komoditas agrikultur dan yang berhubungan dengan energi, jasa minyak dan yang bergerak di bidang pertanian akan menjadi favorit. "Bila memiliki portofolio, lebih baik sebagian besar diinvestasikan ke komoditi," kata Soon-Gek.

Semakin beragam investasi di bidang agrikultur, kata dia, akan semakin baik. Misalnya menginvestasikan uang di berbagai jenis komoditi seperti gula, kedelai dan jagung. Hal ini karena bila harga satu komoditas anjlok akan tertolong dengan investasi di bidang komoditas lain.

Selain agrikultur dan komoditi, saham lain yang nilainya diprediksikan akan bagus adalah saham perusahaan yang berhubungan dengan antisipasi perubahan iklim. Perusahaan-perusahaan itu seperti perusahaan bola lampu hemat energi, perusahaan yang melakukan reforestrasi dan perindustrian kelapa sawit.

Sementara itu, untuk obligasi, Soon Gek lebih merekomendasikan pembelian obligasi swasta daripada obligasi pemerintah yang lebih aman. Meningkatnya obligasi korporat, ujar Soon Gek, telah menjadikan obligasi ini sebagai investasi yang menarik. Hal ini karena di masa inflasi tinggi seperti sekarang ini, kemungkinan perusahaan untuk tidak mengembalikan uang investornya melonjak sebesar 20 persen dari yang tadinya 2 persen.

Arti Ekawati