Mengantisipasi Tren Internet Dunia
TEMPO Interaktif, : Tren penggunaan jaringan berbasis Internet protocol (IP) oleh konsumen dan pelaku bisnis akan meningkat seiring dengan meningkatnya jaringan video dan jaringan sosial web 2.0. Peningkatan itu, menurut prediksi Cisco Visual Networking Index, mencapai 46 persen pada 2012. Ini berarti, hampir dua kali lipat setiap dua tahun.
Hal ini tentu berdampak terhadap permintaan bandwidth pada jaringan IP dunia yang mencapai 522 eksabita, atau lebih dari setengah zettabita. Pemicu kenaikan ini tak lain adalah komunikasi video dan hiburan video online, termasuk jaringan sosial online. Empat tahun mendatang, di Amerika Serikat, lalu lintas video Internet diperkirakan berlipat 400 kali dibanding via Internet backbone.
Sedangkan tren video Internet dunia naik dari 12 persen pada 2006 menjadi 22 persen pada 2007. Lalu lintas IP konsumen dunia, 90 persennya akan dipenuhi video on demand, IPTV, peer-to-peer video, dan video Internet. Pertumbuhan lalu lintas IP bisnis pun diperkirakan mencapai 35 persen hingga 2012 nanti.
Untuk mengatasi masalah itu, Cisco meluncurkan perangkat pengantar bandwidth yang cukup besar dengan kemampuan tinggi, Cisco Carrier Routing System atau CRS-1. Perangkat solusi ini diklaim mampu melayani lalu lintas data hingga 92 terabita per detik.
Keunggulan lainnya adalah kemampuan melayani 12.415 orang untuk mengunduh film sebesar 7,4 gigabita per detik. Dalam waktu bersamaan, 1,3 juta orang bisa mengunduh lagu sebesar 4 megabita serta melayani 15 juta orang untuk menonton video on demand secara bersamaan.
Direktur Pemasaran PT Cisco System Indonesia Kurnijanto E. Sanggono mengatakan, dibanding generasi sebelumnya, perangkat ini bisa mengantar bandwidth untuk jumlah pelanggan yang lebih banyak dengan kualitas tinggi.
Perangkat ini memiliki paket Optical Carrier 768c/STM-256c. Juga menggunakan Cisco Sillicon Packet Processor, sebuah program aplikasi specific integrated circuit dengan kapasitas 40 gigabita per detik.
Sebanyak 105 juta rumah tangga yang punya koneksi pita lebar sebesar 872 kilobita per detik di tiap rumah pun bisa terlayani. "Layanan lainnya, semiliar orang bisa bermain game online<.I> sambil bicara real time," ujar Kurnijanto.
Perangkat ini mempunyai daya tahan 2-3 tahun untuk melayani jumlah permintaan pelanggan suatu operator. Untuk menambah atau mengurangi kapasitas, tinggal menambahkan modul yang masing-masing berkapasitas 40 gigabita per detik. Dengan perangkat ini, operator atau penyedia jasa Internet diharapkan bisa memberi layanan lebih baik kepada para pelanggan untuk mengakses Internet atau melakukan komunikasi online.
Wilayah Asia-Pasifik, kata dia, merupakan pasar layanan online yang cukup menggiurkan. Menurut dia, lalu lintas IP di Asia mencapai 25 persen dari total trafik dunia. "Asia-Pasifik merupakan pasar yang potensial dengan pertumbuhan Internet dan sumber daya yang tinggi pula," ujarnya.
Sementara itu, di Indonesia, penggunaan jaringan sosial online, seperti Friendster, Facebook, Myspace, blog, dan Youtube juga makin meningkat. Mengutip sebuah media di Asia Tenggara, menurut Kurnijanto, bloger Indonesia tergolong paling aktif di dunia. Pengguna Friendster juga besar. Tren makin besarnya kebutuhan bandwidth untuk video dan jaringan sosial online ini butuh layanan bandwidth yang baik pula dari operator.
Operator dan penyedia jasa Internet tak bisa menghindari permintaan konsumen yang membutuhkan bandwidth besar. Seperti permintaan untuk video dan jaringan sosial online ini. "Tren konsumen ini tidak bisa dicegah karena dengan video lebih enak, efisien, dan lebih murah," katanya.
DIAN YULIASTUTI
Bookmark:
Internet Protocol (IP): metode atau protokol pengiriman data dari satu komputer ke komputer lain melalui Internet. Tiap-tiap perangkat komputer dalam jaringan Internet punya paling tidak satu IP sebagai identifikasi unik dari semua komputer lain.













