Audit Pembangkit PLN Digelar


TEMPO Interaktif, Jakarta:Manajemen PT PLN (Persero) segera melakukan audit pembangkit listrik secara bertahap mulai semester dua 2008. Tahap pertama audit akan dilakukan pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap Cilacap dan Suralaya.

Direktur PLN Jawa-Bali Murtaqi Syamsuddin menyatakan, kedua pembangkit listrik tersebut dinilai signifikan mempengaruhi operasional pasokan listrik Jawa-Bali. "Pertengahan tahun ini sudah mulai audit," ujarnya kepada Tempo, Senin (14/7). Pembangkit Cilacap terdiri dari dua unit pembangkit dengan kapasitas masing-masing 300 megawatt. Sedangkan Pembangkit Suralaya berkapasitas 3.400 megawatt.

Murtaqi menjelaskan, saat ini sedang dilakukan seleksi auditor independen untuk melakukan audit pembangkit. Audit, kata dia, akan difokuskan pada manajemen perawatan pembangkit dan penggunaan bahan bakar. PLN mentargetkan audit Pembangkit Cilacap dan Suralaya selesai pada November 2008.

Berdasarkan hasil kajian internal, kata dia, ada indikasi kesalahan operasional sehingga mengganggu kinerja mesin pembangkit. Murtaqi menolak berkomentar tentang kesalahan operasional tersebut. "Tunggu hasil audit," katanya.

Ahli kelistrikan Soetjipto Soewono menyatakan, audit untuk mengetahui tingkat kehandalan pasokan listrik dan kinerja manajemen PLN. "Apakah ada mismanajemen atau tidak dalam mengelola pembangkit listrik," katanya kepada Tempo, Senin (14/7).

Soetjipto menjelaskan, berdasarkan data pasokan listrik pada sistem Jawa-Bali, daya mampu pembangkit listrik PLN pada saat ini sekitar 20.000 megawatt. Sedangkan beban puncak penggunaan listrik sekitar 16.000 megawatt. "Artinya masih ada cadangan atau margin sekitar 4.000 megawatt atau 30 persen," ujarnya. Dengan cadangan sebesar itu, kata dia, seharusnya tidak ada pemadaman listrik.

Menurut dia, pemadaman listrik yang terjadi membuktikan adanya mismanajemen pengelolaan pembangkit. "Banyak pembangkit-pembangkit beroperasi tidak optimal dan rusak," ujar Soetjipto.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Purnomo Yusgiantoro mengatakan, cadangan pasokan listrik saat ini sekitar 20 persen. Angka tersebut berdasarkan hasil audit internal PT PLN (Persero) atas pembangkitan. Menurut dia, dengan cadangan sebesar itu sangat rawan pemadaman jika ada unit pembangkit yang sedang dalam pemeliharaan.

Berdasarkan data yang diperoleh Tempo sejumlah pembangkit baru yang dioperasikan PLN tidak beroperasi optimal. Pembangkit-pembangkit tersebut adalah Pembangkit Listrik Tenaga Air Tulis di Banjarnegera. Pembangkit dengan kapasitas 12,4 megawatt tersebut sejak dioperasikan pada 2003 sampai sekarang bermasalah dan sering rusak.

Pembangkit lainnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap Cilacap dengan kapasitas 2 x 300 megawatt. Pembangkit tersebut bermasalah sejak dioperasikan pada 2006 lalu. Bahkan ketika akan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono satu unit pembangkit ngadat. Hingga kini Pembangkit Cilacap hanya mampu beroperasi tak lebih dari 40 persen.

Sedangkan pembangkit Listrik Tenaga Gas Cilegon sampai sekarang belum mendapatkan pasokan gas dan beroperasi menggunakan minyak. Akibatnya pembangkit yang diresmikan pengoperasinnya pada 2006 hanya mampu beroperasi tak lebih dari 20 persen kapasitas terpasang sebesar 740 megawatt.

ALI NUR YASIN | NIEKE INDRIETTA

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X