Insinyur dengan Satu Harapan
TEMPO Interaktif, Jakarta: -- Saya mengenalnya begitu singkat. Kaku dan terlalu berhati-hati, begitu kesan pertama yang dulu langsung terserap.
Empat tahun lalu, saya melangkahkan kaki memasuki ruang kerjanya sebagai Deputi Bidang Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa di lantai 10 gedung II Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Bersama seorang staf yang ikut mengantar, saat itu saya mencoba merekam keterangan pamungkas soal proyek prototipe kapal bersayap, Belibis, yang dipimpinnya.
Saat itu juga, saya tahu bahwa kapal itu berteknologi wing in ground effect, sehingga bisa terbang di atas efek udara yang terkompresi menjadi bantalan di atas permukaan air (WiSE) itu hendak diuji di Waduk Jatiluhur. Sayang, Said tidak mau mengungkapnya secara detail rencana pengujian itu dengan alasan Belibis masih dalam pengembangan. "Kami belum bisa buka semua informasi karena Belibis juga memiliki arti militer yang besar," katanya waktu itu.
Pertemuan kedua terjadi tiga bulan kemudian ketika Said siap berkemas untuk pindah ke ruang kerja barunya di lantai 2 gedung yang sama sebagai Kepala BPPT yang baru. Lewat wawancara selama lebih dari setengah jam itu saya mengetahui bahwa sarjana Teknik Penerbangan Institut Teknologi Bandung yang meraih gelar doktornya di bidang astrodinamika di Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, itu juga bisa terbuka.
Satu lagi, tampak benar kelurusan dan keseriusannya. "Nah, sekarang saya mau belajar (bidang ilmu selain dirgantara) dulu," begitu katanya ketika saya menutup pertanyaan.
Tekun dan tidak kenal lelah hanyalah dua di antara begitu kayanya kesan yang ditinggalkan Said pascakepergiannya pada Jumat pagi lalu. Sebuah serangan jantung menghentikan kiprah hidup ahli aerodinamika itu menjelang ulang tahunnya yang ke-58 pada 22 Agustus mendatang.
"Semua kenangan bersamanya begitu indah," kata Sadarijah L. Saraswati, sang istri, ketika melepasnya pergi. Hari itu juga jenazah Said diterbangkan ke Yogyakarta untuk dimakamkan di tanah keluarga.
***
Iskendar, pakar transportasi di BPPT, mengenangnya sebagai sosok yang tidak mengenal hari libur Sabtu-Minggu. Selain masih mengajar sebagai guru besar Teknik Penerbangan di ITB, "Beliau juga tidak segan turun sendiri ke lapangan dan memberikan sumbangan pemikiran," ujarnya.
Bekas bosnya, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto, bahkan bisa menyebut Said ceriwis, terutama jika dipancing untuk bicara soal seluk-beluk teknologi dirgantara, dari sejarahnya sampai hal-hal futuristik. "Sebagai insinyur, beliau selalu mengatakan jangan pernah mengaku insinyur jika tak punya kemampuan dan pengalaman merancang karya teknologi, yang dia pegang teguh dan sungguh-sungguh diterapkannya di BPPT dan PT Dirgantara Indonesia," katanya seperti dikutip Antara.
Sebelum diperbantukan sebagai deputi di BPPT sejak 1998, Said memang bekerja di pabrik pesawat dalam negeri yang dulu bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara itu. Di sana ia sempat menjabat, antara lain, direktur teknologi sebelum diangkat sebagai anggota komisaris.
"Karyanya yang paling menonjol adalah N-250, pesawat pertama di dunia kelas two-engine, fly by wire (terkomputerisasi) dengan (kapasitas) 50 penumpang yang dirancangnya mulai desain hingga terbang," ujar Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Adi Sadewo Salatun.
Benar saja, di antara semua karya dan prototipe yang dibidaninya, N-250 memang yang paling dibanggakan Said. Setidaknya, ini menurut kakak kembarnya, Umar Anggara Jenie--Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. "Adik saya memiliki satu harapan: Indonesia bisa mandiri di bidang teknologi dirgantara dan pertahanan," begitu Umar mengenang sang adik. "Ia tidak kenal lelah meski kami semua memiliki anggaran yang sangat terbatas."
Menurut Umar, Said mengerjakan semua proyeknya dengan senang hati. "Sejak SMP ia sudah bergabung dalam Pramuka Angkasa," katanya. "Ia juga sejak kecil sudah rajin bikin model pesawat dari kayu balsa."
Meski langit sudah sangat diakrabinya dalam setiap lembar sketsa pesawat yang dihasilkan, toh, Said tetap tergetar menjelang kepergiannya pada Jumat lalu. Pada Rabu malam lalu, seperti halnya yang rutin dilakukan setiap malam, Said bertukar kabar dengan Umar.
Tapi kali ini bukan soal kesibukan dan pekerjaan masing-masing. Said menelepon "belahan jiwanya" itu tentang rasa sakitnya. "Ia sempat berkecil hati, khawatir akan penyakit berat yang dideritanya," kata Umar, yang sempat tersekat ketika mengungkapkan hal ini.
Said memang akhirnya pergi.
***
"Ah, mengapa orang baik selalu lebih dulu pergi menghadap-Nya?" Begitu Agus Budiyono dan keluarganya menulis dari Seoul. Agus adalah bekas mahasiswa didikan Said yang berkembang menjadi junior dan kolega Said. Agus, juga anak buah Said di BPPT, adalah contoh lain buah tangan yang ditinggalkan Said di dunia.
Sementara Agus dibantunya menjejakkan kaki di MIT dan meraih gelar masternya di bidang aerospace dan aeronautics, di BPPT Said mewarisi sistem jabatan fungsional perekayasa yang kabarnya sudah disetujui Badan Kepegawaian Negara. Dulu, pada pertemuan kedua, ia memang pernah berujar kepada saya, "SDM kami suffered (menderita) selama ini, saya akan segera menatanya untuk mengurangi gap yang ada."
Selamat jalan Said Djauharsjah Jenie. "Beliau orang yang lurus," begitu kata Muhammad Mukhlason, bekas mahasiswanya yang lain.
WURAGIL | RANA AKBARI (BANDUNG)













