Topik
Realisasi Investasi di Batam Meleset
TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Koordinator Perekonomian Sri Mulyani Indrawati menilai kinerja kawasan ekonomi khusus Batam, Bintan dan Karimun belum memuaskan. Realisasi target investasi asing senilai US$ 1 miliar masih jauh panggang dari api.
"Menurut saya masih cukup banyak yang harus diperbaiki. Buktinya realisasi investasi masih belum cukup," katanya usai rapat kerja dengan Kepala BKPM M. Lutfi, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, dan Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdullah di Kantor Menko Perekonomian, Selasa malam.
Sri Mulyani menilai masih banyak hal yang perlu dibenahi kembali seperti kualitas dan kebijakan tenaga kerja, infrastruktur, kepabeanan serta perpajakan. "Transisinya masih belum halus antara Undang-Undang yang baru dengan implementasinya," ujar dia.
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menyatakan pemerintah terus mempromosikan investasi di kawasan ekonomi khusus itu. Salah satu usaha yang dilakukan adalah promosi bersama yang dilakukan Singapura dan Indonesia pada Juli ini.
"Hasil promosi itu cukup bagus, ada 200-an pengusaha yang ikut di Tokyo dan di Osaka 120 perusahaan," katanya. Menuru Mari, sudah ada empat perusahaan yang berminat berinvestasi di Batam atau Bintan. Sudah ada pula misi dari Jepang yang datang ke kawasan tersebut September tahun lalu.
Gubernur Kepulauan Riau Ismeth Abdullah menyatakan empat investor dari Jepang telah berkomitmen untuk menanamkan investasinya sebesar US$ 30 juta. Kemudian, pada September akan ada rombongan 15 dari Tokyo dan 15 dari Osaka akan datang ke Batam.
Empat investor dari jepang yang sudah berkomitmen, rencananya akan menanamkan modalnya di sektornya elektronik, alat kantor, dan bangunan. Menurut Ismeth, keadaan ekonomi di Jepang tidak memungkinkan pengusaha untuk berekspansi. Kawasan BBK, kata Ismeth, menawarkan ongkos produksi barang yang jauh lebih murah. "Kita jamin, biayanya bisa 40 persen lebih murah," ungkap dia.
Ismeth juga menjamin kawasan Batam, Bintan, Karimun, tidak akan terkena larangan kunjungan asing dan tidak ada gangguan keamanan. "Pasokan listrik juga cukup dan tidak ada pengaturan jam kerja," katanya.
Selain dari Jepang, Ismeth juga menyebutkan investor dari Timur Tengah dan Eropa juga banyak yang menyatakan minatnya.
Gunanto E S





