Banjir dan Longsor di Donggala, 1 Tewas, 300 Terisolasi

TEMPO Interaktif, Donggala:Hujan lebat yang mengguyur pegunungan di Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, atau 180 kilometer dari Kota Palu kemarin (21/7) siang menyebabkan banjir dan tanah longsor.

Seorang warga bernama Harsini (22), warga Desa Berdikari, ditemukan tewas tertimbun lumpur di aliran Sungai Mone'e. Tanah longsor dan banjir ini juga mengisolasi sekitar 300 jiwa karena jalan terputus.

Suami korban, Daud Junus (26), mengatakan saat banjir datang dia bersama istri dan anaknya, Riyan (1 tahun 4 bulan), sedang menyeberang Sungai Mone'e. Tiba-tiba air sungai meluap bersama lumpur dan batang-batang pohon besar.

Daud Junus yang sedang menggendong anaknya itu berusaha menolong istrinya yang sudah tertanam lumpur. Rupanya malang tak dapat ditolak. Istrinya terus saja tertanam lumpur, kemudian terseret arus deras. Melihat situasi yang kurang mendukung, Daud langsung melempar anaknya ke bantaran sungai.

"Saat itu saya sudah bingung. Terpaksa, anak saya langsung lempar ke pinggir sungai agar tidak ikut hanyut. Saya sendiri sudah terbenam lumpur sampai betis, sedangkan istri saya semakin tidak berdaya karena sudah hanyut," kata Daud sambil menangis.

Upaya evakuasi terhadap Harsini baru dilakukan tadi malam. Jenasah Harsini berhasil dibawa ke rumahnya di Desa Berdikari, Selasa subuh.

Selain korban tewas satu orang, tanah longsor juga menyebabkan dua rumah warga rusak serta ratusan pohon coklat milik warga ikut ambruk bersama tanah longsor.

Kepala Puskesmas Palolo Mardelina mengatakan banjir dan tanah longsor yang melanda dua desa, Desa Berdikari dan Desa Rejeki, itu menyebabkan ratusan warga terisolasi. "Jalan menuju Desa Rejeki sudah putus tertimbun sejumlah titik tanah longsor. Material longsoran hanya bisa digusur bila ada alat berat," ujarnya.

Tim medis dari Puskesmas Palolo berjumlah sembilan orang juga tidak berhasil menembus Desa Rejeki. Mereka terpaksa mendirikan posko kesehatan di rumah seorang warga di Desa Berdikari. "Kami mengimbau agar warga Desa Rejeki segera turun. Situasi di desa itu masih tetap berbahaya. Tanahnya labil dan ancaman longsor susulan setiap saat bisa terjadi," Mardelina mengingatkan.

Darlis