Kasus Ryan Bermotif Perampokan
TEMPO Interaktif, Jakarta: Verry Idham Henyaksyah alias Ryan, tersangka pembunuhan lima pria, mengaku membunuh demi keamanan dirinya setelah menguras harta korban. “Agar aksinya tak diketahui orang lain,” kata seorang penyidik dari Satuan Kejahatan Dengan Kekerasan Kepolisian Daerah Metro Jakarta kepada Tempo dari Jombang, Jawa Timur, kemarin.
Perwira itu menuturkan, Ryan pun mengakui motif serupa dalam pembunuhan dan mutilasi Heri Santoso, 40 tahun. Ia mengambil empat kartu kredit, telepon seluler, laptop, serta kendaraan korban. “Alasan cemburu menjadi pemicu kedua.”
Begitu juga ketika Ryan mencabut nyawa empat pria di rumah orang tuanya di Jombang, yang menurut dia adalah Ariel Somba Sitanggang, Vincent, Guntur, dan Grandy warga negara Belanda. “Korban ada yang melawan atau berteriak sehingga Ryan membunuhnya," ucap penyidik tadi.
Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Abubakar Nataprawira Polisi menduga Ryan mengalami kelainan jiwa, meski tetap bisa dituntut. “Dia melakukan pembunuhan mutilasi berarti punya kelainan," katanya. “Nanti ahli yang menentukan dia memiliki kelainan.”
Sejumlah psikolog menilai Ryan penderita psikopat. “Lihat bagaimana ekspresi dia ketika petugas membongkar kuburan korban. Datar,” ucap psikolog dari Universitas Padjajaran, Hari Suherman. Tapi, psikopat bisa dipidana.
Berdasarkan penelitian Hari, perilaku seks sesama jenis kerap berujung kekerasan karena pengalaman buruk masa kecil. Haway'im Machrus, psikolog Universitas Airlangga, sependapat. “Mereka sangat posesif,” ujar Haway'im.
Organisasi kaum homoseksual, Gaya Nusantara, membantah tudingan para psikolog. Koordinatornya, Dede Oetomo, berpendapat, kasus Ryan murni kriminal. “Kami berharap hak asasi tersangka (sebagai gay) tak diperlakukan negatif,” katanya. Apalagi, menurut data Komisi Penanggulangan AIDS, sekitar 1,3 juta penduduk Indonesia homoseksual.
Kini, polisi masih mengidentifikasi para korban. Diduga korban yang disebut-sebut Guntur adalah Guruh Setio Pramono, 28, warga Desa Kedondong, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Ayah Guruh, Tumijo, 52 tahun, melaporkan anaknya hilang ke Polres Nganjuk April 2007. “Guruh dilaporkan hilang sejak 5 April 2007,” ujar Kepala Polres Nganjuk Ajun Komisaris Besar Slamet Hadi Supraptoyo.
Ia menuturkan, pada tanggal itu Tumijo dan adik Guruh, Joni, mengantar Guruh ke terminal bus Nganjuk sekitar pukul 09.00. “Hingga kini tak pulang,” ucapnya.
Adapun Vincent adalah Vincentius Yudi Triono, 31 tahun, asal Wonogiri yang lenyap sejak 14 Maret silam. Vincent adalah tenaga pemasaran kantor cabang sebuah perusahaan mebel dan elektronik di Jombang. Menurut adik Vincent, Evi Yohanovita, kakaknya kenal dengan Ryan dan Ariel. “Ryan pelanggan Vincent,” katanya di Wonogiri.
Menurut Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Carlo Brix Tewu, “Untuk Vincent kemungkinan besar memang dia.” Kemarin, keluarga Ariel dan Guruh menjalani tes DNA. “Hasilnya tiga hari lagi,” kata penyidik Unit II Satuan Kejahatan Dengan Kekerasan Polda Metro Jakarta Ajun Komisaris Danang Dwi Kartiko.
Jobpie S. | FERY F. | RIKY F. | Desy P. | Kukuh S.W. | DWIDJO U.M. | Ibnu R.
Komentar (10)
Foto Terbaru
Top Stories
Berita Utama Metro
- Jokowi Evaluasi PRJ Monas Hari Ini
- Pengamat: KJS Pangkas Pemborosan di Rumah Sakit
- Polisi Lepas Pelajar Pendemo Kenaikan BBM
- Jokowi Kucurkan Rp 291 Miliar untuk Kampung Betawi
- Jokowi Tak Setuju BLSM, Ini Kata Mendagri
- Jokowi Diminta Perbarui Data Acuan Ina-CBGs KJS
- Mereka Tertolong dengan KJS ala Jokowi-Ahok


