Krakatau Tolak Usaha Patungan dengan Mittal
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Krakatau Steel (Persero) menolak rencana Arcelor Mittal yang akan mengajak Krakatau dalam usaha patungan membangun pabrik baja di Jawa Barat dan Jawa Timur. Usaha patungan baru dapat ditempuh setelah proses penawaran saham perdana Krakatau di bursa direalisasikan.
“Mereka berulangkali mengajak bertemu untuk membahas joint venture,” kata Direktur Utama Krakatau, Fazwar Bujang hari ini. Namun, kata Fazwar hingga kini Krakatau belum menerima proposal resmi menyatakan ajakan membangun usaha patungan.
Seperti diberitakan sebelumnya, perusahaan baja dunia, Arcellor Mittal menjajaki pengembangan pabrik baja terintegrasi di Jawa. Langkah ini ditempuh Arcelor Mittal setelah peluang akuisisi Krakatau kandas.
Menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Ansari Bukhari, Arcelor Mittal akan membangun pabrik baja terintegrasi antara pengolahan bijih besi dan pembuatan baja.
Ansari menuturkan, investasi minimal yang dibutuhkan untuk membangun pabrik baja dengan kapasitas 1 juta ton sebesar US$ 500 juta. Saat ini di dalam negeri mengalami defisit sekitar 2 juta ton.
Fazwar mengemukakan apabila rencana usaha patungan dibahas sebelum penawaran saham perdana, maka akan mengganggu proses yang sudah ditempuh oleh Krakatau. “Kami perlu penyesuaian lagi, akan mengganggu proses IPO, ini butuh waktu dan tenaga lagi,” katanya. Dia memastikan proses IPO Krakatau sedang dalam tahap finalisasi yang kemungkinan direalisasikan pada November 2008.
Rencana pembangunan pabrik baja oleh Arcelor Mittal ini, kata Fazwar tak akan menggerus pangsa pasar Krakatau. Menurut Mittal, meskipun sebagai perusahaan baja dunia, tak mudah bagi Mittal untuk memindahkan teknologi dan sumber daya manusia.
Saat ini pertumbuhan permintaan baja dalam satu tahun hingga 9 persen. “Mereka butuh waktu empat tahun untuk membangun infrastruktur, saat itu kami sudah lebih siap,” kata Fazwar.
Menurutnya pun, produk baja semakin lama akan semakin variatif. “Kami bisa saling melengkapi kebutuhan pasar,” ujarnya.
Yuliawati