Pemadaman Bergilir di Surakarta Hingga Akhir 2009

TEMPO Interaktif, Surakarta:Hingga akhir 2009, pelanggan PLN di APJ Surakarta akan terus mengalami pemadaman bergilir. Hal ini dikarenakan kurangnya pasokan listrik.

Terkait pemadaman yang direncanakan, APJ Surakarta akan memberitahukan kepada pelanggan melalui surat resmi atau lewat media sehari sebelumnya. “Tapi kalau pemadaman mendadak karena di luar kemampuan kami, tidak ada kompensasi jika ada komplain dari pelanggan,” kata Soeharmanto, Bagian Pemasaran PLN APJ Surakarta kepada Tempo (29/7).

Pelanggan di APJ Surakarta yang berjumlah 980.000 baru akan mendapat kompensasi berupa pemotongan 10 persen dari total biaya beban saat pemadaman 3x24 jam berturut-turut. “Itu pun dengan ketentuan bukan karena force majeur,” tandas Soeharmanto.

Pemadaman di APJ Surakarta dilakukan berdasar jurusan dengan intensitas dua kali dalam sebulan dari jam 08.00-16.00 WIB. Untuk menghindari pemadaman, Soeharmanto menganjurkan selain mengurangi pemakaian listrik pada jam padat (17.00-22.00), pelanggan setiap harinya minimal menghemat 50 watt atau setara 2 buah lampu.

“Bayangkan jika itu benar-benar dilakukan di Surakarta Kota saja yang memiliki pelanggan 250.000, maka akan menghemat 50x250.000 = 12.500.000 kVA atau 12,5 MW,” tutur Soeharmanto.

Saat ini sedang dirancang pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) di Wanganaji, Mejagong, Siteki, dan Plumbungan di Jawa Tengah. Sementara PLTU Rembang diperkirakan baru akan beroperasi akhir 2009, Cilacap akhir 2010, dan Labuhan serta Indramayu antara 2009-2010.

Setiap hari, APJ Surakarta mendapat jatah 20-30 MW. Sementara kebutuhan berkisar pada 45-50 MW, sehingga terdapat defisit rata-rata 15-30 MW.

Kurangnya pasokan disinyalir karena usia pembangkit yang sudah tua, sehingga perlu perawatan rutin lebih intensif. "Rata-rata usia pembangkit 35-40 tahun. Selama ini PLN tidak mampu membangun pembangkit sendiri karena subsidi dari Pusat hanya menambal kekurangan penerimaan, bukan untuk investasi,” ujar Soeharmanto.

Sebenarnya, Soeharmanto berharap ada kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL) sebagai modal untuk investasi. “Tapi sejak 2003 tidak ada penyesuaian TDL,” lanjutnya.

Hal lain yang menyebabkan pasokan tidak stabil adalah banyaknya benang layang-layang dan ranting pohon yang bersentuhan dengan kabel listrik.

Ukky Primartantyo