Mencari Identitas Korban Ryan


TEMPO Interaktif, Jakarta: "Semua masih dalam penyidikan." Begitu jawaban yang terdengar dari seorang petugas di Lembaga Kedokteran Kepolisian, Pusat Kedokteran dan Kepolisian Markas Besar Kepolisian RI, ketika ditanyai soal proses identifikasi korban-korban Ryan. Petugas itu bilang, tak ada waktu untuk menerima wawancara lewat telepon.
Kesibukan di laboratorium DNA lembaga itu pada Senin lalu bisa dipastikan akan bertambah dengan kepastian bertambahnya jumlah korban yang dikubur di belakang rumah orang tua Ryan di Jombang, Jawa Timur. Itu artinya akan semakin banyak sampel DNA yang akan diterimanya untuk diidentifikasi--di luar sampel dari empat jasad yang sudah lebih dulu dievakuasi dari dalam septic tank pekan lalu.

Kalau dibandingkan, teknik identifikasi DNA dalam kasus korban Ryan atau Very Idham Henyansyah, 30 tahun, ini memang relatif lebih mudah dibanding ketika harus menyidik korban bom teroris. Tetap saja, semakin banyak korban, artinya semakin banyak pula jumlah keluarga yang akan meminta dicocokkan DNA-nya dengan DNA korban-korban itu.

Sejauh ini, polisi di Jombang sudah menerima aduan dari lima keluarga yang kehilangan anggotanya, terkait dengan Ryan. Itu khusus yang di Jombang. Beberapa memang diperhitungkan berdasarkan barang bukti milik korban, tapi beberapa lainnya terpaksa dicoret dulu karena dianggap data hilangnya sudah terlalu lama.

Menurut Rudy Herdisampurno, Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan Kepolisian Daerah Jawa Timur, sampai saat ini ada tiga keluarga yang telah diambil sampel darahnya untuk keperluan identifikasi. Mereka adalah orang tua Ariel Somba Sitanggang, Guruh Setyo Pramono, dan Vincentius Yudi Pramono.

Kepada media massa dan sejumlah keluarga itu, polisi mengatakan proses identifikasi dengan cara mencocokkan DNA akan makan waktu sekitar dua minggu per pekan lalu. Proses ini mau tak mau harus dilakoni karena minimnya data primer, seperti rekam gigi. Atau seperti yang dibilang Rudy, "Semua sidik jari sudah hancur."
Sebelum keluar hasil penyidikan dari laboratorium DNA, polisi baru bisa menyatakan kalau satu di antara korban Ryan berasal dari ras Kaukasoid, bukan Asia yang Mongoloid. Pernyataan ini penting untuk dugaan bahwa ada warga negara asing yang masuk daftar korban Ryan.

"Yang baru dapat kita pastikan memang baru asal rasnya," kata Rudy. "Sampel darah mereka masih kami cocokkan. Butuh waktu satu sampai dua minggu untuk mengetahui hasilnya," katanya lagi.

Herawati Sudoyo, Kepala Unit Identifikasi DNA Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, menyatakan, proses identifikasi lewat DNA malah akan lebih memastikan identitas tiap-tiap korban. "Semakin banyak marka atau penanda yang digunakan dalam proses identifikasi DNA itu, semakin tinggi tingkat akurasinya," katanya.

Dalam kasus korban-korban Ryan, Herawati mengatakan DNA semestinya masih mudah diekstrak dan diisolasi karena jasad baru berusia sekitar setahun. Kalau tidak ada darah atau sampel dari jaringan tubuh lainnya, tulang-belulang para korban bisa dimanfaatkan karena terbilang masih muda. Teknik DNA inti ataupun DNA mitokondria pun bisa dilakukan dengan leluasa.

Kedua cara tersebut berbeda berdasarkan ketersediaan sampel. Short tandem repeat (STR) DNA inti bisa lebih pasti dalam mengidentifikasi individu anak dari pasangan orang tua siapa, tapi kelimpahan DNA yang satu ini lebih sedikit daripada teknik kedua yang menggunakan DNA mitokondria yang diturunkan dari garis ibu.

DNA yang terakhir ini lebih melimpah sehingga identifikasi korban yang jasadnya sudah hancur, terbakar, ataupun terkubur hingga lapuk masih bisa dilakukan. "Kalau DNA inti sifatnya lebih cepat terdegradasi dengan waktu," ujarnya.

Beruntung polisi bisa menemukan dengan cepat perilaku tersembunyi Ryan yang membimbing ke sebuah kuburan di septic tank belakang rumah orang tua Ryan itu sehingga teknik STR bisa diaplikasikan. "Karena dia itu (DNA inti) diturunkan separuh dari ayah, separuh dari ibu, sehingga dengan pasti kita bisa mengidentifikasi si korban anak dari pasangan A dan B atau bukan," dia menjelaskan.

WURAGIL | KUKUH WIBOWO (SURABAYA) | DINI MAWUNTYAS (JOMBANG)

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X