Defisit Neraca Migas Gerus Devisa
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta: Meski secara total Nerasa Perdagangan Indonesia pada semester pertama 2008 surplus US$ 5 miliar. Namun jika melihat neraca perdagangan minyak dan gas, Indonesia sampai Juni defisit Juni US$ 630 juta.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukan sampai dengan Juni, ekspor migas sebesar US$ 16,068 miliar sementara impor migas US$ 16,698 miliar.
DIrektur Eksekutif Reforminer Institute Pri Agung Rakhmanto menyatakan era keemasan migas di Indonesia memang sudah lewat. "Migas sudah tidak bisa lagi menjadi andalan dan untuk devisa dan memperkuat nilai tukar," katanya dalam pesan pendeknya kepada Tempo hari ini.
Menurutnya, sektor migas justru turut berkonstribusi besar menyedot devisa dengan impor BBM-nya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Pri Agung menyebutkan impor BBM Indonesia terus meningkat sekitar 5-6 persen setiap tahunnya sementara ekspor terus menurun.
BPS juga menyebutkan pada Juni ekspor migas menyusut dari US$ 3,214 miliar (Mei) menjadi US$ 2,980 miliar atau 7,29 persen. Jika dirinci,ekspor minyak mentah turun 19,65 persen ata menjadi US$ 1,327 miliar, hasil minyak 11,02 persen menjadi US$ 298,8 juta dan gas naik 10,38 persen menjadi US$ 1,353 juta.
Secara volume, ekspor minyak mentah, minyak masing-masing turun 24,11 dan 19,25 serta gas naik 5,93 persen.
Menurut Pri, selama produksi migas tidak bisa ditingkatkan dan konsumsi BBM dalam negeri tidak bisa dikendalikan maka defisit akan makin besar kedepannya.
Kepala BPS Rusman Heriawan mengakui tekanan terhadap neraca perdagangan Indonesia memang cukup besar karena derasnya arus impor, baik migas maupun non migas. Tren selama Januari-Juni, surplus migas terus tergerus impor.
Nilai ekspor Indonesia selama semester pertama 2008 mencapai US$ 70,45 miliar sementara nilai impor sebesar US$ 65,05.
Gunanto E S
Komentar (0)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
Berita Utama Bisnis
- Pengusaha Mebel Ingin Kepastian Harga BBM
- SBY Masih Rahasiakan Soal Menteri Keuangan Baru
- Pasar Kosmetik Ditargetkan Tembus Rp 11 Triliun
- Hatta Tanda Tangani Surat Pemberhentian Oknum Pajak
- ASEI Raih Peringkat BBB- Dari Fitch Ratings
- Merek Asli Indonesia Bakal Bangkit Lagi
- Harga Properti Kelas Menengah Melambung













