Bayan Batalkan Opsi Redshoe


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Bayan Resources Tbk membatalkan opsi pemesanan lebih (oversubscription) di pasar atau redshoe pada masa penawaran perdana sahamnya.

"Redshoe kami batalkan karena pemegang saham lama menilai tidak perlu melepas opsi tersebut," kata Presiden Direktur Bayan Eddie Chin Wai Fong, hari ini.

Sementara itu, Sekretaris Perusahaan Bayan, Jenny Quantero, mengatakan pembatalan opsi redshoe karena bertentangan dengan aturan pasar modal. "Aturan mengenai redshoe belum jelas, jadi opsi itu tidak kami ambil" kata Jenny.

Sebelumnya, Bayan berencana memberikan opsi pemesanan lebih (redshoe) sebanyak 83,333 juta saham, atau setara dengan 10 persen dari total jumlah saham yang dilepas ke publik sebanyak 833,333 juta saham dalam penawaran umum saham perdana (IPO) mendatang.

Opsi redshoe merupakan opsi yang dapat dilakukan perseroan untuk memenuhi kelebihan permintaan selama tiga hari setelah masa penawaran hingga masuk masa penjatahan saham.

Selain opsi redshoe, Bayan juga menyiapkan opsi greenshoe (opsi penjatahan lebih) sebanyak 15 persen dari total saham yang dilepas ke publik, atau 125 juta lembar saham diharga Rp5.800 per saham.

"Opsi greenshoe masih kami siapkan untuk stabilisasi harga saham Bayan setelah IPO," ujar Eddie.

Mengenai hasil masa pembentukan harga, Direktur Trimegah Securities, Rosinu, selaku penjamin pelaksana emisi, mengungkapkan, sebanyak 25 persen saham Bayan diserap oleh investor lokal, dimana 3 persen diantaranya merupakan porsi ritel, sedangkan 75 persen merupakan institusi asing.

Institusi asing yang masuk, kata Eddie antara lain perusahaan energi asal Italia ENEL Spa, dan sejumlah institusi asal Amerika, Eropa, Australia dan Timur Tengah. "ENEL Spa menyerap sekitar 10 persen," kata Eddie.

Bayan berencana melepas 833,333 juta saham diharga Rp5.800 dengan target dana IPO Rp4,83 triliun. Jumlah saham yang dilepas setara dengan 25 persen dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor perseroan.

Hari ini, penawaran saham perdana Bayan mulai dilakukan selama 3 hari hingga tanggal 8 Agustus 2008. Perseroan berharap proses pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI) bisa dilakukan pada 12 Agustus 2008.

Dana IPO akan digunakan antara lain untuk mengakuisisi Kalimantan Floating Transfer Station senilai Rp313,4 miliar, membiayai pengembangan Proyek Wahana, Proyek Perkasa, dan Proyek Fajar, Tabang, dan Brian (FTB).

Biaya pengembangan ketiga proyek diperkirakan Rp829,6 miliar–1,013 triliun. Sisa dana IPO untuk pengambilalihan aset batu bara tambahan serta modal kerja perseroan.

Selain akibat opsi redshoe, tertundanya pernyataan efektif IPO Bayan dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam - LK), juga disebabkan persoalan sengketa lahan dengan PT Porodisa di lokasi tambang anak usaha Bayan, PT Perkasa Inaka Kerta (PIK).

Mengenai tuntutan dari Bupati Kutai Timur terhadap Bayan untuk menghentikan sebagian kegiatan tambang PIK yang bersengketa dengan PT Porodisa beberapa waktu lalu, Eddie mengatakan pihaknya tidak akan memenuhi permintaan tersebut.

"Kami masih mengoperasikan tambang PIK karena sudah memperoleh izin dari Departemen Energi Sumber Daya Mineral," katanya.

Ari Astri Yunita

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X