Topik
Kontrak Lapangan Minyak Benakat Berpotensi Merugikan
TEMPO Interaktif, Jakarta:PT Pertamina EP dipastikan mengalami potensi kerugian dalam kerja sama operasi pengelolaan lapangan minyak Benakat Barat, Sumatera Selatan. Potensi kerugian tersebut akibat patokan produksi minyak yang lebih rendah dari produksi minyak riil per hari. Pertamina EP merupakan anak usaha PT Pertamina (Persero) yang bergerak di bidang kegiatan usaha eksplorasi dan produksi minyak.
Berdasarkan Surat Keputusan Direktur Hulu Pertamina Karen Agustiawan pada 25 April 2008, Pertamina EP melakukan kerja sama operasi dengan PT Indelberg Indonesia. Penunjukan mitra kerja sama selama 15 tahun dilakukan melalui penunjukan langsung.
Dalam lampiran surat tersebut disebutkan baseline produksi sebesar 1.250 per barel per hari dengan tingkat penurunan 11 persen per tahun. Dari hasil kerja sama itu, Pertamina EP mendapatkan bonus sebesar US$ 5,5 juta dengan bagi hasil 15 persen.
Sedangkan berdasarkan data yang diperoleh Tempo, rata-rata produksi lapangan Benakat saat ini sekitar 1.800 barel per hari. Patokan produksi yang disepakati dalam kerja sama sebesar 1.250 barel dinilai sangat merugikan Pertamina. "Ada selisih sekitar 550 barel per hari atau US$ 66.000 (harga minyak US$ 120 per barel) yang langsung bisa dinikmati mitra Pertamina EP tanpa melakukan kegiatan apa-apa," ujar sumber di pemerintahan.
Selain itu, bonus yang diterima Pertamina EP sebesar US$ 5,5 juta dinilai terlalu rendah. Berdasarkan perhitungan direksi Pertamina EP dengan baseline produksi 1.200 barel per hari bonus yang disetor sebesar US$ 21,3 juta.
Direktur Utama Pertamina EP Tri Siwandono menyatakan, pihaknya sampai saat ini masih melakukan pembicaraan kerja sama operasi lapangan Benakat. "Kami masih negosiasi," ujarnya kepada Tempo, Kamis (7/8).
Menurut dia, negosiasi yang masih dilakukan dengan Indelberg Indonesia menyangkut besaran bonus. Mengenai potensi kerugian kerja sama akibat selisih produksi minyak ditetapkan kontrak dengan produksi riil, Tri mengatakan, "Jangan lihat rugi atau tidak, kerja sama ini untuk menaikkan produksi."
Ketika ditanya mengapa Pertamina EP menggunakan baseline produksi 1.250 barel per hari dan bukan produksi riil 1.800-2.000 barel, Tri menolak memberikan penjelasan. Dia hanya mengatakan, sampai saat ini masih melakukan perundingan.
Berdasarkan kontrak kerja sama yang dibuat Pertamina dengan mitra kerja, baseline menggunakan patokan produksi riil pada saat kontrak dibuat. Misalnya, jika produksi riil rata-rata pada saat ini sebesar 1.800 barel per hari, maka kerja sama dengan mitra untuk menaikkan produksi di atas rata-rata tersebut. Jika produksi minyak bisa digenjot melebihi baseline, maka hasil produksi dibagi dengan mitra kerja. Sebaliknya, jika produksi di bawah baseline yang disepakati mitra kerja sama operasi tidak mendapatkan hasil produksi.
ALI NUR YASIN