Tempe Ekspres


TEMPO Interaktif, Jakarta: -- Dua tahun lalu, ketika harga kedelai melambung, hampir seluruh lapisan masyarakat berteriak. Bagaimana tidak, efeknya berpengaruh langsung pada kenaikan harga tempe, jenis pangan kaya protein yang sangat dekat dengan menu keseharian orang Indonesia.

"Kalaupun harganya tidak naik, ukurannya menjadi lebih kecil," begitu kata Andika Setia Budi. Bahkan, di Surabaya, kata dia lagi, ada tempe yang memang harganya tidak naik dan ukurannya tetap, tapi dicampur dengan nasi kering. "Sudah rasanya tidak enak, tidak layak makan pula," paparnya.

Ditemui di Ruang Pameran Karya Ilmiah Remaja di Gedung Widya Graha Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Rabu lalu, siswa Kelas I SMA Kristen Petra Surabaya itu tiba-tiba fasih sekali membahas tempe. Mulai kandungan vitamin B1 dan B12 yang tidak seragam antarproduk tempe sampai perbandingan jumlah paten terkait dengan tempe yang njomplang di Amerika Serikat dan di negara asalnya sendiri, Indonesia. "Amerika Serikat punya 15 paten, sedangkan Indonesia hanya dua. Yang itu pun belum ada nomornya," kata dia.

Bukan tanpa sebab bila Andika jadi begitu peduli dengan tempe. Hari itu ia bersama Samuel Stefanus Widodo, adik kelasnya di SMP Kristen Petra Surabaya, sedang menunggu pengumuman pemenang LKIR 2008. Keduanya, lewat judul karya Percepatan Pembuatan Tempe Bermedia Stabilisator Temperatur, lolos sebagai satu di antara lima finalis bidang ilmu pengetahuan teknik. Belakangan, pada Rabu malam, ketahuan kalau tim juri memilih karyanya itu sebagai terbaik kedua (tidak ada juara pertama).

"Saya hanya berpikir mungkin ada solusi lain yang bisa dimunculkan dalam mengatasi kenaikan harga tempe selain dengan cara menekan harga kedelai," ujar Andika mengungkap latar belakang karyanya. Saat itu sudah setahun berselang dan kenaikan harga kedelai semakin mencekik banyak pengusaha tempe.

Siswa yang pembawaannya ternyata lebih tua daripada usianya yang masih 15 tahun itu lalu berdiskusi dengan guru pembimbing, Gunawan, dan bertemu dengan Samuel di kelompok Karya Ilmiah Remaja. Mereka lalu jalan bareng mengunjungi industri-industri tempe rumahan di Surabaya, yang diselingi dengan mempelajari berbagai literatur ilmiah.

Dalam karya "iseng" ilmiah itu, Andika dan Samuel mendapati bahwa proses pembuatan tempe, dari pencucian kedelai sampai pembungkusannya, sudah standar dari segi waktu. Yang mungkin untuk diutak-atik adalah penetapan variasi suhu yang pas untuk mempercepat pertumbuhan kapang. "Kebetulan saya juga suka komputer dan elektronika, jadi saya bisa membuat sebuah rangkaian elektronik stabilisator temperatur itu sendiri," kata Andika.

Sementara Andika--yang pernah membuat kloset pintar sebagai finalis Lomba Cipta Elektronik Nasional yang digelar Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya--sibuk dengan rangkaian elektronikanya, Samuel kebagian mendalami biologi tempe. "Kami belajar bagaimana membuat tempe supaya enak, tampilannya putih mulus, baunya enak, dan tidak cepat basi," kata Samuel.

***

Alat stabilisator suhu rampung dalam dua setengah minggu, Andika dan Samuel lalu beranjak ke laboratorium sekolah. Di sinilah, menurut keduanya, proses tersulit dialami, yakni mencari variasi suhu yang paling pas bagi kapang Rhizopus untuk berkembang dalam proses peragian tempe. Walhasil, pembuatan tempe harus berulang-ulang.

Tapi itu tidak sia-sia karena mereka akhirnya mendapatkan rentang suhu yang dicari, yaitu 47-55 derajat Celsius. "Di bawah itu, perkembangan kapang kurang cepat. Sedangkan di atas itu, tempe mudah gosong," Andika menjelaskan.

Jadilah Andika mencipta alatnya yang bisa secara otomatis mematikan oven ketika suhu mencapai 55 derajat Celsius. Oven akan kembali menyala ketika penurunan suhu sudah menyentuh 47 derajat Celsius. Begitu seterusnya sehingga variasi suhu tetap terjaga dan peragian tempe pun jadi jauh lebih cepat, hanya empat jam. Bandingkan dengan prosesnya yang konvensional: 36 jam.

"Sebenarnya tiga jam juga sudah jadi. Tapi, dari uji kandungan gizi yang kami lakukan, unsur vitamin B1 dan B12 belum keluar," kata Andika. Jika kondisi itu tidak diperbaiki, Andika melanjutkan, tempe produksinya tidak lebih baik daripada tempe-tempe yang dicupliknya dari pasar.

"Berbeda dengan kandungan lainnya, seperti karbohidrat dan protein, kami menemukan kedua unsur vitamin ini sangat bervariasi. Ada yang tinggi, rendah, dan tidak ada sama sekali," dia menjelaskan.

Tidak perlu waktu lama bagi Andika dan Samuel untuk akhirnya mendapatkan waktu "pemanggangan" yang lebih ideal, yakni 4-4,5 jam. Rentang waktu itu sudah cukup untuk kapang memproduksi kedua vitamin dengan kadar yang tergolong tinggi.

Dengan waktu yang terpangkas hebat, Andika menghitung pengusaha tempe bisa menurunkan harga jual tempenya sampai 18 persen apabila menerapkan prinsip kerja inkubatornya. Itu sudah dengan memasukkan biaya tambahan Rp 300 ribu sebulan untuk pemakaian daya listrik alat sebesar 2 kilowatt. "Tinggal cari relay yang lebih kuat untuk bisa digunakan di industri rumahan," katanya membandingkannya dengan model yang dipresentasikan dalam lomba.

Meski kandungan nutrisi sudah setara, Samuel menyatakan yang masih perlu diperbaiki dari tempe dari inkubator adalah ketebalan kapang yang ternyata lebih tipis daripada produksi peragian konvensional. Samuel dan Andika menduga itu karena proses perkembangannya yang dipercepat. "Tempe itu semakin enak jika kapangnya semakin tebal," ujar keduanya. WURAGIL

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO