Jabatan Kepala Skolah Beraroma Korupsi


TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia, Yanti Sriyulianti, mengungkapkan perekrutan kepala sekolah beraroma korupsi, kolusi, dan nepotisme. Akibatnya, mereka yang diangkat memimpin sekolah tak memiliki kompetensi. "Prosesnya tertutup," ujar Yanti menanggapi rendahnya mutu kepala sekolah saat ini.

Diperkirakan 70 persen dari 250 ribu kepala sekolah di Indonesia tidak kompeten. Menurut Yanti, rekrutmen tertutup berlangsung di mana-mana. "Sehingga diperlukan perubahan manajemen dan regulasi yang lebih transparan dan akuntabel," katanya.

Setiap kepala sekolah pada galibnya harus memenuhi lima aspek kompetensi, yaitu kepribadian, sosial, manajerial, supervisi dan kewirausahaan. Namun, hampir semua kepala sekolah lemah di bidang manajerial dan supervisi.

"Padahal dua kompetensi itu merupakan kekuatan kepala sekolah untuk mengelola sekolah dengan baik," ujar Direktur Tenaga Kependidikan Surya Dharma. Kesimpulan itu diperoleh setelah Direktorat Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional melakukan uji kompetensi terhadap 400 kepala sekolah dari lima provinsi.

Reh Atemalem Susanti

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
Dari beberapa sekolah yang saya tempati rata-rata guru-guru tidak berani melaporkan KESALAHAN KEPSEKNYA. ini karena kurangnya sosialisasi apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan KEPSEK coba ini disosialisasikan secara terbuka... dan bila ada laporan harus segera ditindak lanjuti jangan pandang bulu... terima kasih
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X