Retina di Lensa Kamera
TEMPO Interaktif, Paris: Terinspirasi oleh anatomi manusia, peneliti di Amerika Serikat memproduksi kamera elektronik lengkung pertama di dunia. Berukuran dan berbentuk persis seperti bola mata manusia, kamera yang ditenun dari detektor-detektor silikon menjadi sebuah jaring fleksibel itu mengantar manusia ke sebuah generasi baru kamera video dan digital yang bebas distorsi.
Industri kamera sudah lebih dari 10 tahun berusaha membuat lensa sederhana yang memproyeksikan sebuah gambar melengkung ke bagian belakang kamera secara sempurna. Tapi, karena kamera-kamera yang ada saat ini--baik film maupun digital--menggunakan detektor cahaya yang datar, maka akan selalu terjadi distorsi di tepian gambar yang tercetak atau terekam.
Itulah alasan kenapa retina mata manusia atau mamalia lainnya berbentuk cembung atau lengkung sehingga tidak ada distorsi. Lensa-lensa kamera yang baik memang bisa mengurangi distorsi, tapi harus lewat desain yang kompleks dan mahal.
Mereka bisa saja menyatakan bahwa sudah ada teknologi yang bisa mengolah lebih dari 10 juta piksel menjadi sebuah gambar, tapi ya itu, belum mampu mengatasi problem klasik distorsi yang tercipta oleh perekam gambar yang datar.
Penyebabnya jelas, sensor-sensor cahaya yang konvensional tidak bisa dibuat melengkung tanpa merusak <I>wafer</I> semikonduktor, tempat piksel-piksel sensitif cahayanya tertanam. <I>Wafer</I> itu sangat kaku dan rapuh, serta akan retak bila melengkung satu persen saja.
Dari situlah muncul terobosan yang diciptakan oleh John Rogers dari University of Illinois dan Yonggang Huang dari Northwestern University. Mereka mengatasi keterbatasan itu dengan cara menghubungkan piksel-piksel sensitif cahaya dengan kabel-kabel mungil dan fleksibel yang bisa melengkung sampai 40 persen.
Jaring elektronik yang tercipta ini dipasang ke sebuah membran karet yang lalu dibentuk dengan cara ditarik atau dibuat melar mengikuti lekuk retina mata. Membran akhirnya menjadi sebuah lensa kamera.
"Riset ini benar-benar transformatif," ujar Ken Chong, penasihat di National Science Foundation Engineering Directorate, yang mendanai studi Rogers dan Huang.
"Menggunakan prinsip-prinsip mekanika yang sederhana, para peneliti untuk pertama kalinya memproduksi peralatan elektronik pada sebuah permukaan lengkung sehingga mereka dapat merekam gambar sama seperti yang terekam mata manusia," Ken Chong menambahkan.
Dalam komentarnya yang dimuat <I>Nature</I>, Takao Someya dari University of Tokyo menyatakan teknologi baru itu mengusung kebangkitan kelas baru dari peralatan perekam gambar dengan medan sudut pandang yang lebar, distorsi rendah, dan ukuran yang kompak.
Saat ini, Rogers dan Huang memang baru sebatas membuat detektor yang beresolusi 256 piksel. Meski demikian, mereka yakin urusan <i>scale up</i> akan sangat mudah.
<b>AFP/Whyfiles</b>


