Topik
General Motor Akan Aktifkan Pabriknya di Indonesia
TEMPO Interaktif, Bangkok: Produsen kendaraan asal Amerika Serikat, General Motor, sedang menghitung kemungkinan mengaktifkan kembali pabrik perakitannya di Indonesia. “Optimisme itu sangat jelas,” kata Direktur Jenderal Industri Alat Transportasi dan Telematika Departemen Perindustrian, Budi Darmadi, di Bangkok, Thailand, Kamis (14/8).
Budi menyampaikan hal itu seusai bertemu Chairman dan CEO General Motor Corp. Rick Wagoner. Dalam pertemuan tertutup hampir satu jam itu Wagoner menyatakan apresiasinya atas banyaknya kemajuan ekonomi dan stabilitas politik di Indonesia.
Mulai beroperasi pada 1993, pabrik perakitan mobil milik General Motor di Pondok Ungu, Bekasi, ditutup pada 2005 lalu. Saat itu mereka terpaksa menghentikan sekitar 400 karyawan. Kapasitas produksinya ketika hingga 25 ribu unit per tahun.
Menurut Managing Director General Motor Indonesia, Mukiat Sutikno, rencana perusahaannya dalam posisi yang tidak akan mundur lagi. “Pimpinan Gerenal Motor melihat kondisi saat ini dengan optimistis,” katanya. “Apalagi sikap pemerintah yang sangat mendorong dan menyambut investor untuk datang.”
Sebelumnya, Direktur General Motor untuk Asia Tenggara, Steve Carlisle, juga menyampaikan hal yang sama. “Saat ini kami belum bisa mengumumkan rencana investasi di Indonesia dan Malaysia saat ini,” katanya. “Tapi, jelas kami sangat ingin untuk terus menggarap pasar yang terus tumbuh di sana.”
Rick Wagoner mengatakan, perusahaannya sangat antusias melihat pertumbuhan pasar dan ekonomi di Asia, terutama wilayah Asean. Karena itu, ia berjanji untuk terus berinvestasi di kawasan ini dengan agresif. “Kami akan menjadikan Asean sebagai prioritas untuk mengintroduksi produk-produk dan teknologi baru.”
Mukiat menambahkan, pandangan lebih optimistik dari dari para bosnya itu terjadi setelah sukses yang diraih oleh General Motor di Indonesia. Ia mencontohkan, sepanjang tahun lalu mereka berhasil menjual sekitar 1.400 unit Chevrolet berbagai tipe. “Tahun ini angka itu sudah tercapai dalam enam bulan,” kata Mukiat. “Kami berharap hingga akhir tahun penjualan bisa menembus angka tiga ribu unit.”
Dibandingkan dengan Thailand, kata Budi, Indonesia memiliki banyak hal yang lebih menjanjikan bagi investasi dan industri otomotif. “Dari sisi pasar jelas kita lebih potensial,” ujarnya.
Dengan penduduk sekitar 63 juta jiwa dan pendapatan per kapita 3.500 dolar AS, saat ini pasar mobil di Thailand mencapai 700-800 ribu unit per tahunnya. Adapun Indonesia, dengan penduduk 226 juta jiwa dan pendapatan per kapita 1.900-an dolar AS, setiap tahun para produsen mobil mampu menjual lebih dari 400 ribu unit kendaraan.
Budi menyatakan optimismenya bahwa dalam beberapa tahun mendatang pendapatan per kapita penduduk kita sudah akan sama dengan Thailand saat ini. “Dengan pertumbuhan infrastuktur seperti saat ini, itu berarti ada potensi pasar yang sangat besar di negeri kita,” katanya. “Akan ada ribuan kilometer jalan baru yang akan selesai pada 2010 nanti. Kalau GM tidak cepat bersiap, produsen dan investor lain yang akan mengambil keuntungan itu.”Tomi Aryanto (Bangkok)