Rahasia Michael Phelps
TEMPO Interaktif, Beijing: Michael Phelps tak diragukan lagi bakal menjadi bintang dalam Olimpiade Beijing, Cina. Hingga kemarin, lima medali emas telah melingkari lehernya. Itu berarti Phelps telah mengumpulkan 11 medali emas Olimpiade. Sebab, pada Olimpiade Athena, empat tahun lalu, dia meraih enam emas. Perenang asal Amerika Serikat itu juga melampaui perolehan emas Olimpiade terbanyak.
Namun, target Phelps bukan sekadar bergabung dengan kelompok elite atlet peraih sembilan medali emas Olimpiade bersama pesenam Larissa Latynina, atlet atletik Paavo Nurmi dan Carl Lewis, serta perenang Mark Spitz. Cita-citanya adalah menumbangkan rekor Spitz yang mengumpulkan tujuh emas dalam satu Olimpiade, yang telah bertahan 36 tahun.
Untuk mengungguli Spitz, Phelps harus mengumpulkan sedikitnya delapan emas. Jika target itu tercapai, bonus US$ 1 juta akan mengalir ke pundi-pundinya dari Speedo, pembuat pakaian renang yang digunakannya dalam pesta olah raga dunia itu.
Baju renang Speedo LZR yang digunakan perenang kelahiran 30 Juni 1985 itu harus diakui membantu atlet berenang lebih cepat. Sampai saat ini tak kurang dari 40 rekor renang telah tercipta oleh atlet pengguna pakaian itu, termasuk beberapa rekor yang dipecahkan oleh Phelps, baik di dalam maupun di luar Olimpiade.
Tapi jangan salah, Speedo LZR saja tak cukup untuk membawa Phelps menjadi juara. Prestasinya adalah hasil kombinasi kemajuan teknik latihan, teknologi pakaian, dan desain kolam renang water cube di Beijing yang khusus dibuat untuk mengurangi berbagai hal yang menghambat perenang.
Khusus untuk mengembangkan teknik renang yang mampu memecahkan rekor dunia, tim renang Amerika Serikat tempat Phelps bernaung, mempercayakannya kepada Professor Timothy Wei, Kepala Departemen Rekayasa Nuklir, Mekanika, dan Antariksa di Rensselaer Polytechnic Institute di Troy, New York. Wei membantu mengembangkan perangkat canggih yang sangat rahasia dan teknik matematika yang akan digunakan oleh pelatih tim renang Amerika.
Pakar mekanika fluida itu menyatakan bahwa teknik yang dikembangkannya telah menyumbangkan perbaikan catatan waktu para perenang Olimpiade. "Kami memiliki sistem fisik," kata Wei. "Kami mengukur aliran air dari perenang sungguhan. Kami juga memperoleh lebih banyak informasi tentang renang dan bagaimana perenang berinteraksi dengan air," Wei menambahkan.
Sebelum campur tangan Wei, para pelatih sebetulnya telah menggunakan pemodelan komputer dan simulasi untuk menyempurnakan teknik perenangnya. Namun Wei mengembangkan teknologi diagnosis aliran air canggih.
Teknologi baru itu dicapai lewat modifikasi dan penggabungan perangkat pengukur kekuatan yang dirancang untuk riset antariksa dengan video yang berbasis teknik pengukur aliran, yang disebut Digital Particle Image Velocimetry (DPIV). Kombinasi itu menciptakan perangkat latihan yang dapat melaporkan penampilan seorang perenang secarareal time.
Pelatih tim renang Amerika, Sean Hutchison, menyatakan proyek itu telah membawa dunia renang dari pengamatan menjadi fakta ilmiah. "Informasi yang dihasilkannya memberi saya landasan untuk setiap perubahan teknik renang dalam mempersiapkan tim untuk Olimpiade Beijing.
Meski tim perenang dari Amerika telah menunjukkan hasil memuaskan di ajang Olimpiade, bukan berarti riset Wei berhenti di sini. Penampilan atlet renang Amerika di Beijing terus dipantau oleh empat pakar sains olahraga. Setiap pertandingan direkam. Seusai bertanding, telinga tiap perenang segera ditusuk dengan jarum untuk mengetes kadar asam laktatnya.
Lalu, setelah pelemasan seusai bertanding, analisis video dilakukan untuk memantau jumlah ayunan, jarak per ayunan, waktu putaran, serta biomekanika ketika start dan berputar yang dilakukan perenang.
Masuknya teknologi ke dalam dunia renang disambut baik oleh Genadijus Solokovas, direktur sains olahraga tim renang Amerika. Pakaian renang yang lebih canggih, menurutnya, dapat memfasilitasi kontraksi otot dan memperbaiki tenaga tendangan.
"Saya berharap bisa membandingkan hasil yang ada pada 1970-an, 1980-an, dan 1990-an dengan hasil yang ada saat ini untuk mengetahui bagaimana kemajuan para atlet dengan pakaiannya, teknologi, dan latihan yang dijalankannya," katanya.
"Anda mungkin tak dapat menghentikan teknologi masuk ke cabang olahraga apa pun. Jika atlet ingin berenang lebih cepat, teknologi selalu ada. Ini bagus untuk popularitas renang, dan makin banyak orang tertarik pada olahraga," Solokovas menambahkan.
Tjandra Dewi | RPI | NYTIMES | AFP |
Komentar (2)
Berita Terkait
Foto Terbaru
Top Stories
Editor's Choice
- Platini: Israel Juga Berhak Main Bola
- Seorang Pelajar di Bima Todong Polisi dengan Pistol
- Ini Cara Rumah Sakit Bisa Ambil Untung dari KJS
- Ini Penyebab Rumah Sakit Swasta Ributkan Soal KJS
- Polisi Pelototi Pelat Nomor Kendaraan Pembeli BBM
- Harga BBM Naik, Sorgum Alternatifnya
- KRL Ekonomi Dapat Subsidi Terbanyak
Berita Utama Teknologi
- Apple Akui Berbagi Data dengan Pemerintah AS
- Google Lepaskan 30 Balon Udara WiFi
- Microsoft Office Hadir di iPhone
- Mengapa Plastik Bisa Melindungi Astronaut
- Dibandrol Rp. 6,7 Juta, Blackberry Q10 Axis Laris Manis
- Toshiba Luncurkan Tablet, Laptop Terbaru di Asia
- Galaxy S4 Zoom Padukan Ponsel Cerdas dan Kamera


