Taufik Abdullah Bersyukur Terima Achmad Bakrie Award


Grafis Terkait

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Sejarawan Taufik Abdullah menyatakan kegembiraanya atas Achmad Bakrie Award 2008 yang ia terima. "Saya bersyukur karena ada orang yang masih mengahargai saya," kata Taufik Kamis malam.

Menurut Taufik, menjadi seorang ilmuwan di Indonesia cukup sulit karena kurangnya biaya riset dari pemerintah dan penghasilan yang kurang menjanjikan. Akhirnya, kata dia, "Banyak yang jadi 'asongan', mengajar di sana-sini akhirnya melupakan riset."

Padahal, kata dia, tugas seorang ilmuwan adalah melakukan penelitian yang berguna bagi kemanusiaan. "Saya termasuk yang beruntung karena bisa melakukan riset dan penulisan," ujarnya. Meski, kata dia, "Gaji PNS itu kecil."

Taufik baru saja meraih penghargaan Achmad Bakrie untuk pemikiran sosial dari Freedom Institute. Selain memberikan penghargan kepada sejarawan Lembaga Pengetahuan Indonesi itu, Freedom Institute juga memberikan penghargaan kepada Sutardji Calzoum Bachri (untuk kesusasteraan), Mulyanto (untuk kedokteran), Laksana Tri Handoko (untuk sains), dan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (untuk teknologi).

Freedom menganggap Taufik sebagai sejarawan dan ilmuwan sosial yang telah memperkaya historiografi Indonesia. Sutardji Calzoum Bachri dianggap telah mengeksplorasi batas-batas kemungkinan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan subtil. Dokter Mulyanto dinilai telah menemukan metode baru dalam dunia kedokteran. Laksana Tri Handoko dinilai telah meraih prestasi sebagai fisikawan dengan karya di tingkat dunia mengenai asal-usul massa dan materi. Adapun Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, dinilai telah menjadi salah satu penelitian yang memberikan kontribusi positif pada pengembangan teknologi kelapa sawit dan potensi ekspor Indonesia.

Pada 2007, salah seorang penerima penghargaan, Franz Magnis Suseno, menolak penghargaan tersebut. Saat itu ia beralasan penghargaan tersebut disponsori oleh grup Bakrie yang merupakan salah satu pemilik PT Lapindo Brantas yang diduga menjadi penyebab meluapnya lumpur di Porong, Sidoarjo.

Taufik Abdullah menilai sah-sah saja bila ada pihak yang menolak penghargaan terkait kepemilikan grup Bakrie di Lapindo. Namun, kata Taufik, antara penghargaan Achmad Bakrie dan Lapindo adalah dua hal yang berbeda. "Kita harus melihat persoalan itu dengan jernih," ujarnya. "Kalau kita terus curiga, kepada sipa lagi kita percaya?"

Anton Septian/Tempo Newsroom

Komentar (0)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X