Foto/STOCKXPERT
Topik
Kerja Dobel Beresiko Besar
TEMPO Interaktif, Jakarta: Banyak orang bermimpi bisa mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus demi penghasilan yang besar, tapi kerja dobel bisa berisiko menakutkan. Bayaran yang diperoleh memang besar, tapi stres, ketidakstabilan emosi, dan rasa bosan bisa menyerang Anda.
Memang ada pilihan lain, tergantung corak dan sifat bidang kerja tambahan itu. Yang pasti, kerja dobel tak cuma terkait dengan mengatasi membubungnya kebutuhan hidup, tapi bisa pula wujud ambisi. Ini terjadi di negara berkembang ataupun di negara yang lebih maju.
Misalnya di Australia, ada peningkatan jumlah warga yang mengembangkan portofolio karier dengan bekerja di sektor-sektor yang lebih luas. Michelle Jakubauskas, periset Sydney Workplace Research Centre, menyebutkan jumlah orang yang bekerja dobel meningkat beberapa tahun terakhir.
"Kita kini punya pasar kerja yang ketat dan kekurangan tenaga profesional yang bereputasi, maka banyak yang merasa lebih percaya diri menjadi kutu loncat," katanya beberapa waktu lalu.
Data menunjukkan, pada 1996-2002, jumlah orang yang bekerja dobel tumbuh 4-6 persen. Tren itu pun diyakini berlanjut.
Annemarie Cross, seorang spesialis manajemen karier pada Advanced Employment Concepts di Sydney, yakin ada alasan-alasan bagus mengapa seseorang ingin punya dua atau lebih pekerjaan. "Anda bisa menikmati aneka (pekerjaan), fleksibilitas, dan kebebasan dari memiliki profesi-profesi yang berbeda," ujarnya. "Mereka bisa memilih proyek yang strategis sehingga bisa menghasilkan nilai tambah kepada keahlian dan kompetensi mereka."
"Orang bisa saja memilih banyak proyek yang bisa mereka ambil," tuturnya, "tapi Anda harus tahu batas-batasnya dan ingatlah untuk menyisihkan waktu buat Anda sendiri dan keluarga serta teman-teman."
Dr Timothy Sharp, psikolog perusahaan, memaparkan, jika Anda hendak membuat portofolio, Anda harus punya keahlian yang benar. "Anda mesti bisa mengatur prioritas, membuat batasan, hingga jadwal kehidupan. Beberapa orang menikmatinya, tapi tak sedikit yang kerepotan," dia menjelaskan.
Tip Keseimbangan Hidup dan Karier
1. Kejarlah yang dibutuhkan.Keluarga dan komitmen gaya hidup mesti realistis dengan kebutuhan dan pencapaian. Lebih baik tahu apa yang tak bisa dipenuhi dari penghasilan tambahan.
2. Ketahui hak-hak Anda.
Pepatah lama bilang bahwa pengetahuan adalah kekuatan. Ada banyak informasi tersedia secara fleksibel, seperti susunan pekerjaan yang familiar dengan keluarga, termasuk kebijakan dan aturannya. Ambil keuntungan darinya.
3. Negosiasikan kesepakatan.
Bila Anda mempunyai pola kerja yang fleksibel, ada dukungan pengasuh anak atau orang tua, pilihan keluarga yang nyaman bagi Anda akan bergantung pada pimpinan kantor.
4. Jadwal waktu.
Cara mudah mengatur waktu adalah dengan membagi aktivitas. Prioritaskan dengan membuat daftar urut dan merencanakan tugas. Jika merasa sehari tak cukup, Anda bisa mengendalikan waktu dengan memantaunya. Pakailah ganjaran dan tenggat waktu.
5. Belajar bilang "tidak".
Jika Anda ingin melawan arus dalam menghadapi "ambisi karier" dan ingin membawa keseimbangan dalam hidup, maka belajarlah berkata "tidak" pada tuntutan kerja yang tak masuk akal dan tinggalkan kantor tanpa perasaan bersalah.
6. Mintalah bantuan.
Tak ada yang lebih buruk ketimbang stres dan kecapekan karena Anda mencoba mengerjakan segalanya sendirian. Dengan menyuruh dan belajar mendelegasikan, Anda akan bekerja lebih cerdas, bukan lebih keras. Juga mengembangkan kemampuan memimpin.
7. Jaga kesehatan.
Terpapar stres terus-menerus dapat berakibat depresi dan ambruk. Jagalah dampak stres terhadap kesehatan seminimal mungkin. Pastikan bisa tidur cukup, memakan makanan bergizi, dan berolahraga teratur. Relaksasi juga merupakan pengikis stres, jadi sempatkan melakukan hobi favorit tiap hari.
8. Berfokus pada hasil.
Untuk mempertahankan motivasi, fokuskan pada hasil yang positif. Segera bertindak adalah musuh alami menunda-nunda pekerjaan, maka tetapkan waktu ekstra yang bisa Anda pergunakan bersama keluarga.
9. Manfaatkan waktu luang.
Tahanlah godaan untuk bekerja yang bisa menjatuhkan kehidupan personal Anda. Sebaliknya, jaga kehidupan personal Anda dan pastikan membuat batas-batas yang jelas antara kerja dan kebutuhan pribadi.
The Sidney Morning Herald | Dwi Arjanto