Topik
Semangat Lansia untuk Puasa
TEMPO Interaktif, Jakarta: Tak terasa Ramadan sudah di depan mata. Dalam hitungan hari, umat Islam kembali menunaikan kewajiban ibadah puasa. Anak-anak yang belum mampu pun kerap menyambut gembira. Bagaimana mereka yang lanjut usia? Tidak perlu cemas atau ragu. "Puasa bagi lansia atau geriatri oke bila kondisi stabil, penyakit terkontrol, dan tidak ada infeksi akut," kata Dr dr Siti Setiati, SpPD, Kger, MEpid dalam simposium mini yang digelar Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam di kampus Universitas Indonesia beberapa waktu lalu.
Asalkan, dia mengingatkan, ada anggota keluarga yang mengatur dan memperhatikan pola makan, minum, dan aktivitasnya. "Berbagai gangguan kesehatan fisik dan psikologis yang akut, seperti infeksi akut, gagal jantung, asma akut, tentu tidak memungkinkan seseorang menjalani puasa," ia menambahkan.
Konsultan geriatri dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini mengatakan sebenarnya dari sudut pandang agama, puasa tidak diwajibkan bagi yang berusia lanjut. Namun, karena dorongan kuat untuk memperbaiki diri dan meningkatkan ketakwaan, justru sering kali para lansia lebih bersemangat menunaikan ibadah puasa dibanding mereka yang diwajibkan. Ini terlihat dari hasil penelitian yang dilakukan Siti terhadap 50 orang berusia 64-83 tahun pada Ramadan tahun lalu. Hasilnya, 76,50 persen lansia masih bersemangat menjalani puasa. "Bukan itu saja, dari data tersebut ternyata sebanyak 83,30 persen lansia itu menjalani puasa sebulan penuh, tidak ada yang lewat," ujarnya.
Dari penelitiannya juga terungkap bahwa 38,50 persen lansia mengaku puasa membuat tubuh menjadi lebih segar, dan 69,20 persen tidak mengalami keluhan selama puasa. Hanya 7 persen yang menyatakan kondisi fisik mereka sangat lemah dan lemas akibat puasa. "Selebihnya, sekitar 92 persen justru mengaku ingin menjalani puasa tahun ini," katanya.
Padahal, bila dibandingkan dengan yang berusia lebih muda, organ tubuh lansia telah mengalami berbagai penurunan fungsi. Kemampuan tubuh untuk menyerap asupan nutrisi dan cairan pun lebih rendah sehingga metabolisme tubuh terganggu. Selain itu, biasanya pada usia ini banyak penyakit yang melekat, seperti hipertensi, pengapuran, diabetes melitus, gangguan keseimbangan sehingga mudah jatuh (instabilitas), atau penyakit jantung koroner. Tak jarang juga mereka mengkonsumsi lebih dari lima macam obat.
Setiati menjelaskan, adanya infeksi ringan saja dapat menurunkan asupan makanan dan minuman yang kemudian dapat menimbulkan kekurangan cairan dan gangguan status gizi. Volume cairan tubuh orang lansia sudah menurun dari sekitar 60 persen menjadi 40-50 persen dari berat badan dan rasa haus pun menurun. Tapi sepertinya hal itu tidak menurunkan semangat para lansia. Hebat, bukan?
Namun, hati-hati bila lansia berniat menjalani puasa, perlu dipantau asupan makanan dan minumannya sejak berbuka puasa sampai saat sahur. Yang terpenting diperhatikan adalah kebutuhan cairan dan makanan dalam sehari. Hal ini harus terpenuhi saat mereka tidak berpuasa, yakni pada saat berbuka puasa sampai saat sahur. Demikian pula obat yang harus diminum, perlu pula dipantau dan diatur kembali jadwalnya. Setiati menyebutkan, lansia yang menderita penyakit kronis degeneratif pun dapat berpuasa. Yang perlu diwaspadai, menurut dia, adanya kemungkinan berkurangnya asupan cairan dan makanan yang dapat memicu berbagai masalah kesehatan lain yang serius.
Konsumsi cairan yang cukup sekitar 30-50 cc per kilogram berat badan per hari (8-10 gelas). Sebaiknya jadwal minum diatur, misalnya dua gelas saat berbuka, 3-4 gelas setelah salat tarawih sampai sebelum tidur, satu gelas saat bangun tidur sebelum sahur, dan 1-2 gelas saat sahur. Dianjurkan lebih banyak mengkonsumsi air atau jus buah antara berbuka puasa dan sebelum tidur.
Selain itu, jaga agar lansia tidak terlalu banyak mengkonsumsi es karena es dapat menahan rasa kenyang dan menurunkan konsumsi makanan yang lengkap. "Tidak dianjurkan juga untuk mengkonsumsi teh terlalu banyak pada saat sahur karena teh dapat merangsang pengeluaran urine sehingga garam mineral yang dibutuhkan tubuh untuk siang hari akan terbuang," ia mengingatkan.
Kebutuhan kalori selama berpuasa sama dengan ketika tidak berpuasa. Jumlah kalori harus dapat dipenuhi sesuai dengan kebutuhan untuk menghindari kekurangan gizi yang dapat menimbulkan masalah lain. Jenis makanan yang dikonsumsi harus memiliki komposisi gizi yang seimbang. Disarankan juga memilih makanan yang lebih lama dicerna, yaitu yang mengandung karbohidrat kompleks (seperti nasi dan roti) serta makanan dengan kandungan serat tinggi (seperti sayuran dan buah), khususnya saat sahur. Sedangkan makanan yang lebih cepat dicerna adalah makanan berkarbohidrat sederhana. Walhasil, mengkonsumsi gula sebaiknya dibatasi. Dianjurkan juga untuk membatasi makanan yang digoreng dan berlemak tinggi. "Kurma dan pisang baik dikonsumsi khususnya ketika berbuka puasa karena mengandung gula, serat, karbohidrat, kalium, dan magnesium," ujarnya.
Pola makan yang dianjurkan ketika berpuasa adalah 40 persen kalori saat sahur, 50 persen kalori saat berbuka puasa--yang dibagi menjadi dua, yaitu makanan ringan atau segar saat berbuka (sebelum salat magrib) dan makanan padat atau besar setelah magrib--serta 10 persen sesudah salat tarawih berupa makanan kecil. Dia mengingatkan, walaupun nafsu makan berkurang, dianjurkan untuk tetap mengkonsumsi makanan dan minuman sesuai dengan kebutuhan dan pola yang dianjurkan. "Untuk itu, pada usia lanjut, dianjurkan untuk minum dan makan dengan otak, tidak dengan lidah," ucapnya.
Obat yang harus dikonsumsi jangan lupa diminum di saat berbuka puasa dan sahur. Disarankan untuk mengkonsumsi vitamin dan mineral yang cukup, lebih sering memonitor kesehatan, seperti kadar gula darah dan tekanan darah, khususnya bagi lansia dengan diabetes melitus dan hipertensi. Waspadai terjadinya dehidrasi dan hipoglikemia. "Bila kondisi fisik tidak memungkinkan, jangan memaksakan diri untuk terus berpuasa," dia berpesan.
Marlina Marianna Siahaan