Anak Kurang Gizi Meningkat
Topik
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sebanyak 37 persen anak Indonesia usia 0-5 tahun bertubuh pendek karena kekurangan gizi. Hal itu terungkap berdasarkan data sementara dari penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) di Departemen Kesehatan.
Angka anak 0-59 bulan yang mengalami stunting itu meningkat bila dibandingkan dengan pemantauan pada 2006 yang mencapai 30 persen. "Kekurangan gizi ditandai dengan bentuk fisik stunting, artinya tinggi badan tidak sesuai umur," kata Atmarita, peneliti dari badan penelitian itu di sela acara "Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi IX" di Hotel Bidakara, Jakarta, Selasa (26/08/2008).
Data sementara riset kesehatan dasar itu dikumpulkan dari 28 provinsi dan 378 kabupaten/kota terhadap 230 ribu rumah tangga dengan jumlah responden sebanyak 800 ribu orang. Penelitian tersebut akan dilakukan di 33 provinsi dan 440 kabupaten/kota. Penelitian tahun 2008 itu akan melibatkan 280 ribu rumah tangga dengan jumlah responden mencapai satu juta orang. "Yang belum selesai diteliti ada 60 kabupaten di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, dan Ternate," tutur Atmarita.
Atmarita menolak menyebutkan daerah yang tingkat gizi buruknya tertinggi karena angka anak bertubuh pendek bervariasi di tiap kabupaten/kota. "Antara 18-60 persen," kata dia. Penyebabnya antara lain ibu yang kekurangan gizi dan keturunan. Tubuh pendek biasanya juga dialami oleh anak yang lahir dengan berat badan rendah.
Selain mengungkap data kekurangan gizi, Balitbangkes juga mendata kelebihan gizi yang dialami oleh orang dewasa. Sebanyak 18 persen perempuan perkotaan mengalami obesitas, sedangkan persentase obesitas perempuan pedesaan lebih rendah yaitu 11 persen. Laki-laki perkotaan yang mengalami obesitas sebanyak 12 persen, sedangkan laki-laki pedesaan hanya empat persen.
Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Arum Atmawikarta menyatakan Indonesia mengalami dua masalah pangan. Di satu sisi ada masyarakat yang kekurangan gizi, sedangkan di sisi lain ada yang kelebihan. Karena itu, Arum mengimbau agar masyarakat menjaga berat badan seimbang dengan mengasup makanan gizi seimbang. "Anak yang sejak dalam kandungan hingga usia dua tahun mendapatkan gizi cukup biasanya akan memiliki berat badan seimbang," tutur Arum.
Kelebihan gizi, menurut Arum, biasanya dialami orang dewasa dengan pola makan yang tidak sehat. "Bahkan orang miskin pun bisa kelebihan gizi karena mengkonsumsi banyak kalori dalam jajanan murah seperti gorengan," ujar Arum.
Arum menambahkan, kelebihan gizi atau obesitas dapat mengakibatkan penyakit kardiovaskuler seperti serangan jantung yang merupakan penyakit pembunuh pertama di Indonesia.
Reh Atemalem Susanti
Komentar (4)
Berita Terkait
Top Stories
Foto Terbaru
Editor's Choice
- Calon Pasangan Terbaik Indonesian Movie Awards
- Frans Magnis: Dipo Alam Wajib Bela SBY
- Korban dan Pelaku Potong 'Burung' Jadi Tersangka?
- Foto-foto Langka Macan Tutul Jawa di Habitatnya
- Kisah 33 Tahun Tinggal di Bantaran Waduk Pluit
- FOTO: Jejak Terjangan Tornado Oklahoma
- Begini Cara Blokir Nomor Mama Minta Pulsa
Berita Utama Teknologi
- Torpedo Tua yang Ditemukan Si Lumba-lumba
- Samsung Yakin Kuasai Pasar Notebook Indonesia
- Australia Kembangkan Gas Dari Kotoran Babi
- Yahoo! Pindah ke Gedung New York Times
- David Karp, 'Drop Out' SMA yang Kaya dari Tumblr
- Samsung Galaxy S4 Active, Ponsel Anti-Debu dan Air
- 8 Tahun YouTube, 100 Jam Video Diunggah per Menit













