Pengrajin Minta Amrozi Cs Segera Dieksekusi

TEMPO Interaktif, Mataram: Pengrajin gerabah di Desa Banyumulek,Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, mendesak pelaku bom Bali segera dieksekusi. Menurut pengrajin, dampak bom itu masih terasa sampai sekarang: usaha gerabah sepi pembeli karena turis takut datang. "Kami masih menderita," ujar ujar  Sekretaris Asosiasi Pengrajin Gerabah Banyumulek, Zainuddin Mujiburahman,  kepada Tempo, Kamis (28/8).

Terpidana bom Bali, Amrozi, Ali Ghufron, dan Imam Samudra dipastikan tidak segera dieksekusi. Menurut Jaksa Agung Hendarman Supandji, eksekusi yang sedianya dilaksakan sebelum pusa Ramadan diundur setelah  bulan suci itu.  

Menurut Zainuddin, Amrozi cs yang  menunggu eksekusi, betul-betul merugikan industri kerajinan gerabah di daerahnya. Hampir tidak ada  wisatawan mancanegara  datang berbelanja. Dari sekitar  3.000 pengrajin, belum seluruhnya menikmati kembali kelancaran usahanya.

Sebelum bom meledak yang menewaskan lebih dari 200 orang, di antaranya warga asing, penjualan gerabah mencapai Rp100 juta  per hari. Saat ini transaksi di sana cuma Rp 20 juta seminggu. Kondisi yang buruk ini memaksa pengusaha  gulung tikar karena barang yang disuplai untuk eksportir tidak terbayar.

Seorang pengusaha Oji Artshop Mustari  jga berharap  pemerintah segera menghukum Amrozi cs.  ‘’Karena ulahnya, perdagangan gerabah di Banyumulek menderita rugi,’’ ujarnya. Kepala kelompok yang bersimpatik dengan "perjuangan" Amrozi cs, Zainuddin maupun Aji minta untuk menata kembali pikiran dan niatnya. Hidup berdampingan sesama umat manusia bagian dari ajaran agama.

Supriyantho Khafid