Lambung
Topik
Lebih Sehat Saat Ramadan
TEMPO Interaktif, Jakarta: Sebuah tayangan komersial di televisi menyambut datangnya Ramadan dengan pernyataan khusus untuk penderita maag. Intinya, si pasien tak perlu cemas saat menjalankan puasa karena biarpun lambungnya bermasalah, ibadah wajib ini masih bisa dijalankan.
Dr Ari Fahrial Syam SpPD KGEH menyatakan pandangan serupa. "Mereka masih bisa menjalankan ibadah puasa kok, tergantung sakit maagnya," ujarnya dalam simposium mini dengan tema "Tetap Sehat dan Bugar Selama Bulan Puasa Ramadan" di Universitas Indonesia, Jakarta, beberapa waktu lalu. Sakit maag sebaiknya tidak dijadikan alasan untuk tidak berpuasa.
Sakit maag, atau istilah medisnya sindrom dispepsia, umumnya menimbulkan ketidaknyamanan atau rasa sakit di daerah ulu hati yang disertai rasa mual, kembung, cepat kenyang, kurang nafsu makan, dan sering bersendawa. Dispepsia dikelompokkan menjadi dua jenis, yakni fungsional dan organik. Disebut dispepsia fungsional bila, melalui pemeriksaan endoskopi, tidak ditemukan kelainan secara anatomi. Di Indonesia, 80 persen dispepsia yang diderita adalah jenis ini.
Adapun dispepsia dikategorikan organik bila saat diteropong ditemukan kelainan secara anatomi, misalnya luka dalam pada lambung dan usus dua belas jari, polip pada kerongkongan, lambung, atau usus dua belas jari, bahkan kanker pada organ pencernaan tersebut.
Berpuasa berarti sistem pencernaan tidak menerima makanan dan minuman kurang-lebih 14 jam. Penelitian di Paris terhadap 13 sukarelawan yang berpuasa memperlihatkan, setelah 6-8 jam perut kosong, terjadi peningkatan pepsin dan asam lambung yang dapat menimbulkan gejala maag. Umumnya penderita maag fungsional pada minggu pertama akan merasa perih pada lambung. Tidak usah takut, kondisi ini akan normal pada minggu kedua.
Solusinya, penggunaan obat antiasam lambung yang bisa diberikan saat sahur dan berbuka untuk mengontrol asam lambung selama berpuasa sehingga keluhan yang timbul saat berpuasa, terutama saat perut sudah kosong (6-8 jam setelah makan terakhir), dapat dikurangi. Obat antiasam bekerja selama 12-24 jam. Dengan begitu, obat ini dapat tetap mengontrol asam lambung selama pasien berpuasa. Berbeda dengan dispepsia organik, bila si penderita berpuasa, kondisi sakit lambungnya justru semakin parah. "Mereka boleh melakukan puasa, asalkan penyebab sakit lambungnya diobati terlebih dulu," kata Ari.
Lazimnya, dispepsia fungsional timbul akibat pola makan tidak teratur, kebiasaan makan camilan berminyak, minum kopi atau minuman ringan bersoda sepanjang hari, khususnya di siang hari, serta karena kebiasaan merokok dan stres. Nah, selama puasa Ramadan, kita akan makan teratur, asupan camilan berminyak pun berkurang, jumlah rokok yang diisap menurun, demikian juga konsumsi kopi dan minuman bersoda. Pengendalian diri selama puasa juga bisa mengurangi stres. "Inilah yang membuat penderita dispepsia fungsional akan merasa lebih sehat atau keluhan sakitnya akan berkurang bila berpuasa," ujar dokter spesialis penyakit dalam dari Divisi Gastroenterologi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo ini.
Dia menambahkan, selama berpuasa, asupan makanan dan minuman harus menjadi perhatian penderita sakit maag. Sebaiknya penderita menghindari makanan (juga pola makan) yang menyebabkan atau memperberat gejala maag, seperti tidak makan berlebihan pada saat sahur atau berbuka. "Kebiasaan 'balas dendam' untuk minum dan makan sebanyak-banyaknya selama berbuka harus dihindari. Makan berlebihan membuat kita susah bergerak dan mengantuk sehingga kita tidak dapat melakukan rangkaian ibadah lain yang secara medis mampu membakar kalori sehingga dapat mengontrol berat badan," ucapnya.
Marlina Marianna Siahaan