Asumsi Harga Minyak 2009 US$ 95-110 per Barel.


TEMPO Interaktif, Jakarta:  Rapat Kerja Komisi Bidang Energi Dewan Perwakilan Rakyat dan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menyepakati asumsi harga minyak mentah pada Aggaran 2009 ditetapkan pada kisaran US$ 95 hingga US$ 110 per barel. Kisaran ini akan dibawa ke Panitia Anggaran untuk menetapkan satu angka asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009.

“Dengan asumsi yang dibuat dalam bentuk kisaran harga ini, pemerintah akan lebih fleksibel menghadapi fluktuasi harga minyak dunia,” kata Anggota Komisi dari Fraksi Partai Golongan Karya Agusman Effendy dalam rapat semalam.

Selain asumsi harga minyak, rapat yang berlangsung kurang dari dua jam ini juga menyepakati proyeksi produksi minyak mentah tahun depan sebesar 950 ribu barel per hari. Sedangkan kuota konsumsi jenis bahan bakar bersubsidi dipatok 36,8 juta kiloliter, dengan rincian premium sebesar 19,4 juta kiloliter, minyak tanah 5,8 juta kiloliter, dan minyak solar 11,6 juta kiloliter.

Sebelumnya, terdapat perbedaan asumsi harga minyak antara Dewan dan Pemerintah. Komisi bidang energi mengajukan kisaran asumsi 95 dolar AS hingga 120 dolar AS per barel. Sedangkan pemerintah dalam nota keuangan mengajukan 100 dolar AS per barel.

Anggota komiai bidang energi, Suharso Monoarfa, mengatakan asumsi harga minyak memang bisa diberikan dalam bentuk kisaran. Tapi pada pembahasan selanjutnya, kata dia, panitia anggaran akan mengambil satu angka asumsi harga yang akan dipakai sebagai patokan pada anggaran 2009. Kisaran juga tak bisa diberikan dengan dengan selisih yang lebar, karena akan berpengaruh terhadap resiko fiskal.

Panitia Anggaran, kata Suharso, sebenarnya telah mengabil dua angka asumsi harga minyak untuk anggaran 2009, yakni pada 100 dolar AS per barel dan 130 dolar AS per barel. Pada asumsi harga minyak 100 dolar AS per barel, negara diperkirakan memperoleh dampak <I>netto</I> atau selisih seluruh penerimaan dan seluruh beban minyak sebesar Rp 80,8 triliun. Namun, jika ternyata harga minyak dunia mencapai US$ 130 per barel, maka dampak netto 74,8.,  diperlukan risiko fiskal sekitar Rp 6 triliun.

Menurut dia, yang terpenting saat ini adalah memastikan produksi dan konsumsi minyak bersubsidi tahun depan. Pasalnya, pada anggaran 2008, produksi minyak diasumsikan 1,034 juta barel per hari. Namun, produksi hanya terealisasi 927 ribu barel per hari. “Inilah yang menyebabkan penerimaan anjlok, sedangkan defisit meningkat karena subsidi pemerintah atas konsumsi minyak naik tajam,” ujarnya.

Anggota Komisi Energi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Alvin Lie berpendapat sama. Dia mengatakan, pemerintah seharusnya memiliki strategi yang jelas dalam menghadapi fluktuasi harga minyak. “Strategi itu yang paling penting,” ujarnya.

Meski menyetujui kisaran asumsi harga minyak untuk anggaran 2009, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro enggan berkomentar soal masalah keamanan fiskal. Pasalnya, pembahasan soal anggaran merupakan wilayah kewenangan Menteri Keuangan dan Panitia Anggaran.

Menurut dia, departemen yang dipimpinnya lebih memperhatikan keamanan dari asumsi volume produksi dan konsumsi, terutama setelah kuota konsumsi bahan bakar bersubdisi untuk tahun anggaran 2009 disesuaikan menjadi total 36,8 juta kiloliter dari sebelumnya 38,8 juta kiloliter.

Departemen, melalui  Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas), akan mengurangi kuota konsumsi pada premium dan solar sebanyak masing-masing 1 juta kiloliter.  “Saya akan minta kepada BPH Migas untuk mencari cara menguranginya sehingga asumsi 2009 tercapai,” katanya.

Anggota Komite BPH Migas, Hanggono T. Nugroho, mengaku telah menyiapkan beberapa upaya untuk mengurangi penggunaan bahan bakar minyak jenis tertentu. Salah satunya berupa konservasi berupa sosialisasi hemat bahan bakar. Upaya diversifikasi energi juga akan dilakukan dengan melanjutkan pengalihan penggunaan minyak tanah ke <I>liquefied petroleum gas</I> (elpiji) serta pengenaan fiskal disinsentif untuk kendaraan bermotor.

Agoeng Wijaya   

Komentar (1)


Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi tempo.co. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
0
0
harga minyak dunia ini agak membingungkan. Minyak merupakan suatu benda yang tidak berlanjut,suatu keanehan apabila mengalami penurunan harga. Bila pemerintah salah memperhitungkan harga minyak dunia indonesia akan kalang kabut dan bingung harus berbuat apa?
Copyright © 2011
TEMPO
.CO
Wajib Baca!
X