Daerah Operasi VII Jalur Rawan

TEMPO Interaktif ,  Madiun: Tanah ambles dan rel patah menjadi ancaman jalur kereta api di daerah Madiun. Menurut juru bicara PT. Kereta Api Indonesia Daerah Operasi VII Madiun, Eko Budiyanto, terdapat 12 titik yang rawan kereta anjlok di jalur Daerah Operasi VII.

Eko mengatakan kereta anjlok di antaranya bisa disebabkan karena rel patah, bantalan rel masih kayu, tanah ambles dan bangunan penyangga rel yang telah berusia tua. Di daerah operasi VII ini, titik yang rawan tanah ambles adalah sepanjang 500 meter rel antara Stasiun Wilangan dengan Stasiun Bagor di Nganjuk.

Sedangkan daerah yang rawan rel patah adalah antara Stasiun Kedung Banteng – Walikukun dan antara Stasiun Sukomoro- Baron - Kertosono. Setelah itu, titik berikutnya ketika kereta melewati antara Stasiun Sembung - Jombang. Belanjut di Stasiun Kediri - Ngadilukun dan Stasiun Ngunut - Rejotangan.

Sementara bangunan jembatan rel yang telah tua dan rawan menyebabkan anjlok adalah Stasiun Purwosari – Papar dan Ngujung - Tulung Agung.

Menurut Eko, sepanjang 64,3 kilometer dari 236 kilometer rel kereta api yang berada di wilayah Daerah Operasi VII masih menggunakan bantalan kayu. “Dengan bantalan kayu membuat rawan kecelakaan di jalur ini.”

Bantalan rel kayu berada mulai dari Stasiun Walikukun - Ngawi- Paron, Madiun - Caruban - Saradan, Nganjuk - Kertosono dan Blitar - Curah Malang. "Di daerah rawan itu masinis kereta harus hati-hati saat menjalankan kereta, maksimun 50 kilometer per jam," katanya.

Tempo| Dini Mawutyas